Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Antara Al Mukhlif dengan Syaikh Ali Al Khudhair dan Al Maqdisi

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Sebagian perkara dan kesimpulan yang dipegangi oleh Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya telah lebih dahulu dipegangi oleh sebagian ulama yang mulia dari kalangan orang yang masih hidup maupun orang yang telah wafat. Seperti Syaikh 'Ali Al Khudhair dan ulama lainnya dari kalangan ulama kontemporer, juga seperti sebagian ulama dakwah Najd yang diberkahi.

Mereka berijtihad dalam perkara-perkara tersebut dan menarik kesimpulan-kesimpulan tersebut berdasar ilmu yang Allah karuniakan kepada mereka. Sebagian perkara dan kesimpulan tersebut tidak saya ragukan lagi merupakan ketergelinciran dan kekeliruan yang termasuk dalam kategori “ketergelinciran seorang ulama”, seperti sebagian kesimpulan Syaikh 'Ali Al Khudhair —semoga Allah membebaskan beliau dan mengampuni beliau, amin-.

Sudah sama-sama diketahui bahwa telah tetap dalam syariat Islam dan dalam pemahaman generasi sahabat dan salafush shalih serta tulisan para ulama —semoga Allah merahmati mereka semua- yang memperingatkan untuk berhati-hati dari ketergelinciran ulama, menjelaskan bahayanya, dan menerangkan kewajiban kita terhadap ketergelinciran tersebut. Dalam hal ini, silahkan mengkaji kitab Jami’ Bayanul 'Ilmi wa Fadhlih karya Imam Ibnu 'Abdil Bar, Al Muwafaqat fi Ushulisy Syari’ah karya Imam Asy Syathibi, dan buku-buku lainnya.

Namun perbedaan antara para ulama yang mulia tersebut dengan orang-orang yang sesat Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya, bahwasanya para ulama yang mulia tersebut menyimpulkan perkara-perkara tersebut melalui metode para ulama dan mereka memberi uzur kepada orang yang menyelisihi mereka dengan ijtihad dan takwil.

Mereka juga memiliki (setelah taufik dari Allah Ta’ala) landasan keilmuan, pemahaman jiwa, dan manhaj yang selamat (karena menerima ilmu dengan cara-cara yang benar) sehingga melindungi mereka dari sikap mengafirkan seluruh ulama Islam yang menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang mereka simpulkan atau melindungi mereka dari mengafirkan seluruh kaum muslimin selain golongan mereka.

Anda akan melihat Syaikh 'Ali Al Khudhair, misalnya, mengatakan bahwa perkara tidak berlakunya udzur bil jahl dalam perkara syirik akbar adalah masalah ijmak yang telah disepakati. Ia mengutip kesimpulan itu dari generasi belakangan ulama dakwah Najd dan ia mengikuti pendapat mereka. Ia juga membeda-bedakan antara kekafiran dan kesyirikan seperti halnya kesimpulan Abu Maryam Al Mukhlif atau mirip dengannya. Ia juga menyebutkan beberapa perkara yang kebenarannya perlu diteliti lagi. Meski demikian, beliau adalah seorang ulama yang mulia dari kalangan orang saleh dan baik. Demikian persangkaan kami tentang beliau dan Allah Yang mengetahui keadaan sebenarnya.

Lihatlah pula bagaimana Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi fakallahu asrah, pendapat beliau dalam masalah ini seperti pendapat Syaikh 'Ali Al Khudhair atau dekat dengannya. Namun beliau tidak mengafirkan orang yang berbeda pendapat dengannya. Pendapat beliau dalam masalah tersebut juga tidak mendorong beliau untuk mengafirkan seluruh kaum muslimin, beliau juga tidak mengingkari jihad, dan lain-lain!

Kesimpulannya, seorang penuntut ilmu wajib memahami hal ini dan tidak terpedaya oleh ketergelinciran salah seorang ulama mana pun, hendaknya ia tetap menempuh jalan petunjuk dan senantiasa mengetuk pintu Allah Yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui, niscaya Allah akan membukakan pintu petunjuk kepadanya.

Dalam Sunan Abu Dawud dan lain-lain dari Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu berkata,
وَأُحَذِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيمِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلَالَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيمِ، وَقَدْ يَقُولُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ "، قَالَ: قُلْتُ لِمُعَاذٍ: مَا يُدْرِينِي رَحِمَكَ اللَّهُ أَنَّ الْحَكِيمَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الضَّلَالَةِ وَأَنَّ الْمُنَافِقَ قَدْ يَقُولُ كَلِمَةَ الْحَقِّ؟ قَالَ: «بَلَى، اجْتَنِبْ مِنْ كَلَامِ الْحَكِيمِ الْمُشْتَهِرَاتِ الَّتِي يُقَالُ لَهَا مَا هَذِهِ، وَلَا يُثْنِيَنَّكَ ذَلِكَ عَنْهُ، فَإِنَّهُ لَعَلَّهُ أَنْ يُرَاجِعَ، وَتَلَقَّ الْحَقَّ إِذَا سَمِعْتَهُ فَإِنَّ عَلَى الْحَقِّ نُورًا»
“Dan aku peringatkan kalian terhadap penyimpangan orang yang berilmu karena sesungguhnya setan terkadang mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang yang bijaksana dan orang munafik itu terkadang mengatakan kalimat kebenaran.” Yazid bin Umairah, salah seorang murid Mu’adz bin Jabal bertanya kepada Mu’adz, “Semoga Allah merahmati Anda. Bagaimana saya bisa tahu bahwa setan terkadang mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang yang bijaksana dan orang munafik itu terkadang mengatakan kalimat kebenaran?” Mu’adz bin Jabal menjawab, “Tentu saja Anda bisa. Jauhilah dari perkataan seorang yang bijaksana perkara-perkara yang “menghebohkan”, yaitu perkara-perkara yang membingungkan sehingga ditanyakan apa-apaan ini? Tapi janganlah hal itu membuatmu meninggalkan orang yang bijaksana tersebut karena boleh jadi ia akan kembali kepada kebenaran dan terimalah kebenaran jika engkau mendengarnya karena sesungguhnya pada kebenaran itu ada cahayanya.”

Ingat-ingatlah selalu apa yang telah kami isyaratkan di depan tentang peringatan para ulama salaf agar mewaspadai perkara-perkara asing, yang oleh sahabat Mu’adz dalam riwayat di atas disebut al musytahirat dan dalam sebagian jalur periwayatan hadis di atas menggunakan lafal al musytabihat, perkara-perkara yang membingungkan. Dalam lafal periwayatan yang lain berbunyi,
«بَلَى، مَا تَشَابَهَ عَلَيْكُمْ مِنْ قَوْلِ الْحَكِيمِ، حَتىَّ تَقُولَ مَا أَرَادَ بِهَذِهِ الْكَلِمَةِ؟»
“Yaitu perkara-perkara yang membingungkan kalian dari perkataan orang yang bijaksana sehingga engkau menanyakan, “Apa yang ia maksudkan dari perkataan ini?””

Demikian riwayat dalam kitab Jami’ul Ushul.

Hendaknya seorang penuntut ilmu waspada untuk tidak mengagungkan seorang ulama tertentu melebihi pengagungannya terhadap kebenaran, lantaran terlalu dominannya kecintaan kepada para ulama, kelompok, dan lain sebagainya karena hal itu merupakan sebab ketergelinciran yang berbahaya dan salah satu sebab kebinasaan.

Imam Ibnu Al Jauzi rahimahullah dalam kitab Shaidul Khathir mengatakan, “Tujuannya hendaklah Anda mengetahui bahwa syariat ini telah sempurna dan lengkap. Jika Anda dikaruniai kepahaman terhadap syariat, niscaya Anda sedang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Tinggalkanlah “bangunan-bangunan” jalan dan janganlah engkau taklid kepada orang-orang dalam agamamu. Jika Anda melakukan hal itu niscaya Anda tidak memerlukan wasiat lainnya.  Waspadailah sikap statis para periwayat (ulama hadis), sikap longgar para ulama ahli kalam, sikap mengumpul-ngumpulkan harta oleh orang-orang yang suka berlagak zuhud, sikap rakus para pemuas hawa nafsu, berhentinya para ulama pada ilmu tanpa mau beramal, dan berhentinya para ahli ibadah pada amalan tanpa landasan ilmu. Barang siapa yang diteguhkan oleh Allah dengan kelembutan-Nya, dikaruniai oleh-Nya kepahaman, dikeluarkan oleh-Nya dari belenggu taklid, dijadikan oleh-Nya seorang imam panutan yang sendirian di atas kebenaran pada zamannya, tidak peduli kepada orang yang mencemoohnya, dan tidak menoleh kepada orang yang mencelanya, niscaya ia telah menyerahkan tali kekangnya kepada penunjuk jalan yang sangat jelas jalannya. Semoga Allah melindungi kami dan kalian dari sikap taklid kepada orang-orang yang diagung-agungkan dan semoga Allah mengilhamkan kita untuk mengikuti jalan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Ketahuilah bahwa hal ini termasuk salah satu bentuk ujian Allah kepada umat manusia, maksud saya perkara ketergelinciran-ketergelinciran para ulama, agar Allah melihat siapa hamba-Nya yang menaati-Nya, ikhlas kepada-Nya, jujur dalam mencari kebenaran, sungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kemampuannya agar selaras dengan kebenaran, dari hamba-Nya yang tidak mau mencari kebenaran dan keutamaan.

Hal ini mengandung hikmah-hikmah yang agung, selain hikmah dari adanya ujian bagi para mukalaf untuk membedakan perbedaan tingkatan mereka, memberi mereka argumentasi bagi siapa yang segera berusaha dan siapa yang duduk-duduk saja. Di waktu pagi, kaum akan memuji mentari yang cerah dan bagi Allah ‘Azza wa Jalla semata segala pujian.

Kemudian ketahuilah bahwa seorang ulama yang bersungguh-sungguh dalam menginginkan kebaikan dan mencari kebenaran, maka sesungguhnya kekeliruannya diampuni dan dia diberi satu pahala, yaitu pahala ijtihad dan mengerahkan segenap kemampuan dalam mencari kebenaran dan kebaikan. Hal itu sebagaimana ditegaskan dalam hadis yang disepakati kesahihannya.

Namun orang yang taklid kepadanya dan orang yang mengikuti pendapatnya yang keliru tersebut terkadang tidak mendapat pahala, tidak mendapat uzur, dan tidak diampuni kekeliruannya. Hal itu terjadi apabila sikap taklid tersebut ia lakukan semata-mata karena mengagungkan syekhnya dan tokoh yang ia ikuti serta fanatisme kepadanya, bukan karena ia menginginkan kebaikan dan mencari kebenaran dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Imam Ibnu Rajab Al Hanbali rahimahullah berkata, “Di sini ada satu perkara samar yang selayaknya dimengerti, yaitu bahwa sesungguhnya banyak ulama terkadang mengatakan sebuah pendapat yang lemah, dan dalam hal itu ia berijtihad, mendapatkan pahala atas ijtihadnya, dan dimaafkan atas kekeliruannya. Sementara itu orang yang membela pendapat lemah ulama tersebut tidak mencapai tingkatan ulama tersebut karena ia membela pendapat tersebut semata-mata karena ulama yang ia ikuti berpendapat demikian itu. Di mana seandainya yang mengatakan pendapat tersebut adalah ulama lainnya selain ulama yang ia ikuti, niscaya ia tidak akan menerimanya, tidak akan membelanya, tidak akan membela orang yang sependapat dengannya, dan tidak akan memusuhi orang yang menyelisihinya. Meski begitu ia menyangka bahwa ia hanya membela kebenaran seperti halnya kedudukan ulama yang ia ikuti. Padahal tidak demikian keadaannya. Sebab ulama yang diikutinya hanya menginginkan membela kebenaran, meskipun ia keliru dalam ijtihadnya. Adapun si pengikut ini, pembelaannya terhadap pendapat yang ia sangka kebenaran tersebut telah dicampuri oleh keinginan meninggikan ulama yang ia ikuti dan memenangkan pendapatnya serta supaya ulama yang ia ikuti tidak dinyatakan keliru. Ini merupakan penyusupan sebuah niat buruk yang membuat cacat keinginannya untuk membela kebenaran, maka pahamilah hal ini karena hal ini merupakan perkara yang penting dan Allah memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar