Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Apakah Seorang Muslim Jadi Kafir karena Hidup di Negara Kafir?

Oleh Anas Ibn Ali An Nasywan

Pertanyaan:
Apakah seorang muslim menjadi kafir hanya sekadar dia hidup di negara kafir?

Jawaban:
Yang benar, wallahu Ta'ala a'lam, bahwa sekadar tinggal di negara kafir adalah bukan kekufuran secara zatnya, bahkan hal itu bukanlah kekafiran, kecuali jika disertai perbuatan yang menyebabkan kekafiran yang berupa menampakkan sikap setuju terhadap kekafiran atau berloyalitas kepada pelakunya. Buktinya adalah bahwa nas-nas Al Qur'an dan As Sunnah tidak meniadakan keislaman dari orang yang tinggal di tengah-tengah kaum musyrikin hanya karena sekadar tinggal, tetapi tetap menetapkan keislamannya.

Alloh Ta'ala berfirman,
"Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun atas kalian melindungi mereka sebelum mereka berhijrah."
(QS. Al Anfal: 72)

Dan Dia Ta'ala juga berfirman,
"Dan kalau tidaklah karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kalian ketahui, bahwa kalian akan membunuh mereka yang menyebabkan kalian ditimpa kesusahan tanpa pengetahuan kalian (tentulah Allah tidak akan menahan tangan kalian dari membinasakan mereka). Supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah Kami akan mengazab orang-orang yag kafir di antara mereka dengan azab yang pedih."
(QS. Al Fath: 25)

Dari Jabir bin ‘Abdillah berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal di tengah￾tengah orang-orang musyrik.” Mereka bertanya, “Wahai, Rosulullah, mengapa?” Rasul menjawab, “Janganlah kedua belah
pihak saling dapat melihat api masing-masing.”
(HR. Abu Dawud (2/52, no. 2645) dan At Tirmidzi (4/155, no. 1604 ))

Oleh karena itu meninggalkan hijrah di saat hukumnya wajib di sertai adanya kemampuan merupakan kemaksiatan dan kefasikan, tidak meniadakan usul iman, akan tetapi meniadakan kesempurnaan iman (wajibul iman) dan ahli ilmu memberikan rincian tentang hukum hijrah, maka mereka menyebutkan keadaan-keadaan kapan hijrah itu wajib, sunah, atau mubah.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,
“Maka tidak wajib hijrah dari negeri yang telah ditaklukkan kaum muslimin, adapun jika sebelum ditaklukkan, maka kaum muslimin berada pada salah satu tiga golongan:
• Pertama, mampu berhijrah darinya, ia tidak mampu menampakkan agamanya dan tidak juga melaksanakan
kewajiban-kewajibannya, maka hijrah darinya wajib.
• Kedua, mampu berhijrah, akan tetapi ia mampu menampakkan agamanya dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya, maka hijrah darinya sunah dikarenakan memperbanyak jumlah kaum muslimin dan menolong mereka, memerangi orang kafir, aman dari pengkhianatan mereka, dan bisa menghindar dari kemungkaran mereka.
• Ketiga, tidak mampu hijrah karena suatu uzur baik itu tertawan, sakit, atau yang lainnya, maka boleh baginya tinggal.”
(Fathul Bari karya Ibnu Hajar, 9/326)

Dan adapun apa yang dinukil dari sebagian ulama seperti Ibnu Hazm dan lainnya berupa mengafirkan secara mutlak terhadap orang yang meninggalkan hijrah atau tinggal di negara kafir, maka pemahaman ini dibawa kepada orang yang tinggal di negara kafir karena loyalitas kepada orang-orang kafir atau karena cinta kepada mereka. Wallahu Ta’ala a’lam...

Sumber: Abu Malik At-Tamimi, Pertanyaan dari Nigeria, (Penyebar Berita: 1441 H), hlm. 4-8.

Penulis: Anas Ibn ‘Abdil ‘Aziz An Nasywan
Penerjemah: Hubbut Tauhid
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al ‘Umari