Oleh Abu Asybal Usamah
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

Sangat disayangkan di tengah-tengah umat Islam yang cinta akan jihad dan mujahidin, ada media yang mengatasnamakan jihad namun malah menyerang mujahidin dengan seribu alasan yang ia sendiri belum bisa membuktikannya. Ya, bagaimana ia bisa membuktikannya sedangkan ia tidak menyaksikan langsung apa yang terjadi di medan jihad.

Situs Muqawamah adalah situs “jihad” yang gencar mempropagandakan “kejelekan-kejelekan” negara Islam Iraq dan Syam. Segela sumber pun menjadi bahan baginya untuk menyerang negara Islam Iraq dan Syam. Hingga twitter yang ia tidak tau siapa di balik pemilik akun tersebut pun dipungut olehnya untuk memuaskan nafsunya menyerang negara Islam Irak dan Syam. Ya Allah, kami serahkan apa yang mereka sembunyikan di hati mereka kepada-MU.

Bahkan menanggapi pernyataan Syaikh Abu Muhammad al-‘Adnani, jubir negara Islam Irak dan Syam, pun ia menggunakan kultuwit dari @ShamLovers. Lalu ia pun menulis judul yang sangat menyayat hati pecinta jihad dan mujahidin “Kontradiksi Terbaru Dari Perkataan Seorang Mafia dari Syam, Al-Adnani”.

Para pembaca yang dimuliakan oleh Allah. Siapakah dia yang dengan percaya diri dan congkak menamakan mujahid, yang telah berjuang di Irak selama bertahun-tahun dan di Suriah, dengan gelar mafia. Apakah Syaikh al-‘Adnani pernah mendirikan klub malam atau menguasai suatu klub malam, bandar narkoba, dan pemalak ulung sehingga ia namakan mafia?

Sungguh Allah akan menanyakan itu di hari kiamat nanti. Jika ia orang yang beriman, niscaya ia tidak akan mengobral kata-kata seperti apalagi berkaitan dengan kehormatan mujahidin. Kami akan menjawab tulisan situs tersebut yang menganggap dalam pernyataan Syaikh Abu Muhammad al-Adnani terdapat kontrakdiksi 4 kotradiksi.

PERTAMA

“Al-‘Adnani mengklaim bahwa Abu Hamzah Al Muhajir telah mengabarkan kepada pimpinan Kaidah bahwa jemaah mereka di Iraq telah bubar, maka saya menantangnya dengan beberapa pertanyaan. Bagaimana Abu Hamzah menyatakan bahwa Kaidah di Iraq telah bubar tanpa ada persetujuan dari para pimpinannya? Maka pasti di sana terdapat sebuah sebab, yaitu sebab yang dibenarkan oleh Abu Hamzah dan ditolak olehmu wahai mafia! Yang jelas ini menunjukkan bahwa jemaah negara merupakan cabang resmi Kaidah. Jika tidak, maka bagaimana mungkin Kaidah dapat bubar tanpa seizin Amirnya? Kalau benar demikian, maka hanya ada dua kemungkinan, yang pertama Abu Hamzah Al Muhajir telah berdusta di hadapan para pemimpinnya di Kaidah pusat. Jika tidak, maka kamulah yang telah berdusta dengan menggunakan nama Abu Hamzah terhadap kami.”

Melalui kultuwit “majhul” tersebut, situs Muqawamah dengan congkaknya ikut menantang Syaikh Abu Muhammad al-Adnani untuk menghadirkan fakta bahwa Kaidah Irak telah bubar? Maka hendaklah ia mendengarkan perkataan Syaikh Aiman Azh-Zhawahiry sendiri tentang negara Islam Irak dan Syam serta nasehatnya kepada jemaah-jemaah lainnya, “Saya jelaskan bahwa sekarang tidak ada yang namanya Kaidah. Akan tetapi organisasi Kaidah di negeri dua aliran sungai bersama kelompok jihad lain telah melebur ke negara Islam Iraq dan ia adalah Imarah Syar’iyyah yang berdiri di atas manhaj syar’i yang terbentuk dengan musyawarah. Negara Islam Iraq adalah langkah penegakkan khilafah lebih maju dibanding jamaah-jamaah jihad yang ada. Maka, jamaah-jamaah jihad itulah yang membaiat negara Islam Irak bukan sebaliknya,” tutur Syaikh Aiman Azh-Zhawahiry.

Begitu juga dengan salah seorang komadan Kaidah pusat, Syaikh Athiyyatullah al-Liby, belau berkata dalam pernyataan dukunagn beliau kepada negara Islam Irak, “Adapun status baiat kepada negara yang diberkahi ini -in sya Allah- dan kepada amirnya -semoga Allah meneguhkannya- adalah baiat syar’iyyah atas dasar dia sebagai pemimpin muslimin di negeri tersebut. Dan hukumnya -wallahu a’lam- sebagaimana informasi yang kami terima, adalah seperti baiat imam a’zham dalam segala hukum. Namun dia bukan imam a’zham dalam artian bukan imam bagi seluruh muslimin, akan tetapi dia amir dan imam di muslimin yang di bawah kekuasaannya.“

Bahwasanya amir organisasi Kaidah di negeri dua aliran sungai, Syaikh Abu Hamzah al-Muhajir, telah membaiat Syaikh Abu Umar al-baghdadi sebagai amir negara Islam Iraq.

KEDUA

“Al-‘Adnani mengklaim bahwa jemaah negara berkomitmen terhadap perintah Kaidah untuk tidak menyerang Iran, namun mengapa diakhir kalimatnya ia berkata bahwa Kaidah tidak pernah memberi perintah seperti itu? Bagaimana bisa kamu mentaati perintah Kaidah untuk tidak menyerang Iran dan disaat yang sama kamu tidak mematuhi perintah mereka untuk tidak membunuh orang-orang syiah yang awam? Semua orang tahu bahwa terdapat sebuah hubungan abadi antara ancaman dari luar dan ancaman dari orang-orang Syi'ah kepada umat Islam, maka mengapa anda membiarkan orang-orang Syi'ah dan para tentaranya di Suriah?”

Kontradiksi ini datang dari hasil ketidaksampaian nalar penulis terhadap pernyataan Syaikh Abu Muhammad al-Adnani terhadap hubungan antara Kaidah dan negara Islam Iraq. Jelas dalam pernyataan Syaikh al-Adnani yang berjdul ‘Udzran Ya Amiral Qa’idah” mengatakan bahwa mereka berkomitmen dengan NASEHAT & TAUJIHAT bukan PERINTAH (AMR). Karena negara Islam Iraq menjaga persatuan mujahidin dan menjaga kalimat mujahidin, maka mereka pun menghormati Kaidah dengan mengalah dan menyerahkan komando (arahan) kepada qiyadah Kaidah, di mana agar kebijakan negara Islam tidak berbenturan dengan kebijakan strategis Kaidah.

Adapaun kebijakan syar’i, seperti arahan untuk tidak menyerang orang-orang Rafidhah, kuil-kuil mereka dan orang-orang awam mereka, maka hal ini tidak dijalankan oleh negara Islam. Maka, kalau seandainya Kaidah merupakan AMIR SYAR’I bagi negara Islam, maka konsekuensinya mereka harus taat meski berbeda pandangan dalam hal ini. Karena dalam istilah ushul yang namanya amr itu adalah Istid’aul Fi’li Bil Qouli ‘Ala Jihati Isti’la Meminta untuk mengerjakan sesuatu dengan ucapan atas dasar suruhan atasan kepada bawahan.

Maka, mana mungkin perintah seorang amir kepada ma’mur-nya diabaikan. Karena kalau diabaikan, maka dia berhak dihukum. Namun hal tersebut tidak berlaku karenaa memang tidak ada hubungan secara syar’i dalam konteks siyasah syar’iyyah kecuali wala’ kepada mu’min dan menghormati pendahulu dalam jihad.

Lagi-lagi pertanyaan terakhir yang sering dijadikan tuduhan kepada negara Islam Iraq dan Syam adalah mereka tidak menyerang tentara Nusyairiyyah dan antek-anteknya.

Dari mulai berdirinya di Suriyyah hingga detik ini, negara Islam Iraq dan Syam terus melancarkan serangan kepada rezim Nusyairy. Contonya pada bulan November 2013, Abu Hatun al-Jazrawy melancarkan serangan martyr (Istisyhadiyah) terhadap markas tentara Nushairy di Kota Shawaran, Hama, yang mengakibatkan sekitar 60 tentara Nusyairiyah tewas. Pada bulan yang sama dan tahun yang sama, seorang jundi dari negara Islam Iraq dan Syam, Abu Ghureb Ath-Thaify, melancarkan serangan di Der Athiyyah, Qalamun, yang mengakibatkan ratusan shabiha tewas. Dan operasi ini dikutip juga di situ resmi FSA di bawah asuhan Kolonel Riyadh al-As’ad. Bulan Februari 2014, negara Islam Iraq dan Syam melancarkan operasi istisyhadiyah yang mereka namakan Ghazwah Aitam Ghauthah “Perang Anak-Anak Yatim Ghauthah” , di mana nama tersebut mengggambarkan bahwa operasi tersebut merupakan operasi sendirian tanpa berkoordinasi dengan faksi oposisi lain dalam operasi yang dilancarkan di Jobar, Damaskus, yang menewaskan 100 tentara Rezim Nusyairy. Bulan Maret 2014, Kota Raqqah yang berada di bawah kendali negara Islam Iraq dan Syam diserang oleh Batalyon 17 Tentara Rezim Nusyairy. Maka, tentara negara Islam Iraq dan Syam bangkit untuk menghadang serangan tersebut. Sampai sekarang, tentara negara Islam Iraq dan Syam 24 jam mengadakan penjagaan di pos-pos dalam rangka siaga manghadapi serangan dari unit itu. Dan masih banyak lagi operasi-operasi mereka. Apalagi di Irak. Haddits wala Haroj.

Sumber: http://manusiaonline.blogspot.com/2014/05/bantahan-terhadap-situs-muqawamah-sebut.html?m=1, dengan penyesuaian

Penulis: Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

aul Fi

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Jangan Ngaku di Atas Kebenaran Jika Menolak Munazharah (72)
Keutamaan Menguasai Ilmu Fikih (75)
Mengenal Sosok Ulama Dakwah Islahiyyah di Era Daulah ‘Utsmaniyyah (91)
Refleksi atas Perilaku Pendukung Negara Islam di Media Sosial (84)
Menjaga Keamanan di Dunia Digital (86)