Oleh Abu Asybal Usamah
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

KETIGA

“Ia mengklaim bahwa dengan sebab kekangan Kaidah, jemaah negara tidak dapat mengutak-atik Arab Saudi, maka apakah Kaidah memintamu bergabung ataukah Anda sendiri yang bergabung? Apakah kamu tidak dapat melihat apa yang telah dilakukan oleh Kaidah selama ini di Jazirah Arab (Yaman)? Bukankah itu semua terjadi pada zaman kepemimpinan Syaikh Usamah bin Ladin wahai orang yang suka berlindung di balik jubah beliau? Kalau begitu siapa sekarang yang telah berubah? Syaikh Dr. Ayman Azh Zhawahiri ataukah kaum khawarij?”

Tidak ada yang kontradiksi dalam konteks tersebut. Karena memang negara Islam Iraq tidak intervensi ke Biladul Harimain (Saudi), karena itu adalah wilayah operasi Kaidah dan negara menghormati itu DAN TIDAK BERGABUNG dalam operasi. Disiplinkan?

Lalu kontradiksi dalam kritikan tersebut adalah membawa masuk ranah Yaman ke konteks Saudi. Meski Saudi masuk dalam Jazirah Arab, namun yang disebutkan adalah Saudi, karena jelas ulama-ulama rabbani berada dalam jeruji Rezim Saudi yang membuat mereka harus sabar untuk tidak mengulurkan tangan kepada mereka karena ada tanzim lain yang akan melakukan hal itu.

KEEMPAT

“Dia telah mengajak bermubahalah, telah berdusta, mencaci, memaki, menyembelih dan mengebom, kemudian menyalahkannya kepada Syaikh Dr. Ayman Azh Zhawahiri, karena beliau menyebarkan surat yang rahasia. Dia juga mengatakan bahwa mustahil jika umat ini dapat menyetujui Mahkamah Syariah Independen, namun pada pernyataan yang sama ia berkata bahwa umat dapat memilih seseorang (Al Baghdadi) untuk kemudian diberikan bai’at dan ia menjadi khalifah bagi mereka.”

Ia mencoba menempelkan kesan di benak mu’minin bahwa Syaikh Abu Muhammad al-Adnani, lebih umumnya negara Islam Iraq dan Syam, adalah seorang yang berlumuran dengan kejelekan yang kerjanya hanya membunuh muslimin. Kami tanyakan, Syaikh Abu Muhammad al-Adnani memaki siapa? Menyembelih siapa? Mengebom siapa?

Kemudian, Syaiikh Abu Muhammad al-Adnani mengatakan bahwa Syaikh Aiman telah melakukan kesalahan karena telah menerima bai’at ghadir (pengkhianat) dan menerima pengakuan mereka hingga menyeret kepada perselisihan-perselisihan hingga sekarang, bukan menyelahkan Syaikh Aiman kerana berdusta, mencaci, menyembelih dan mengebom.

Lalu terakhir tentang masalah mengangkat khalifah, untuk menempelkan kesan bahwa daulah Islam Irak dan Syam itu rakus kekuasaan dan kepemimpinan (Ya Allah, kami serahkan hati-hati mereka kepadamu, jika berniat buruk maka berikanlah balasan setimpal), ia berkata, “Namun pada pernyataan yang sama ia berkata bahwa umat dapat memilih seseorang (Al Baghdadi) untuk kemudian diberikan bai’at dan ia menjadi khalifah bagi mereka.”

Padahal Syaikh Abu Muhammad menyerukan untuk berkumpul dari berbagai kelompok jihad di dunia agar memilih siapa saja yang lurus agamanya, mengkufuri tagut, berlepas diri darinya dan mendeklarasikan permusuhan dan perang terhadapnya. Berikut petikannya, “Maukah engkau aku tunjukkan kebaikan dan kemudahan? Sebuah perkara jika dilaksanakan muslimin, mereka akan meraih keberuntungan. Apakah tidak ada di antara muslimin orang yang shalih? Apakah di antara muslimin ada orang yang menjadi pakar? Bukankah di antara muslimin ada orang yang lurus yang dipilih oleh muslimin yang mengumumkan di khalayak kufur kepada tagut dan berlepas diri dari kekafiran dan kemurtadan serta mendeklarasikan kebencian dan perangnya terhadap mereka.

Lalu kami membaiatnya lalu menjadikannya khalifah. Kami perangi orang yang membangkangnya di Irak, Syam, Jazirah, Mesir, Khurosan dan seluruh belahan bumi. Maka kita menghentikan perselisihan ini. Kita membuat marah orang-orang kafir dan membuat gembira orang mukmin. Maka tidak ada lagi Imarah Syar’iyyah selainnya.

Ini adalah solusi. Dan tidak ada solusi selainnya. Maka, kewajiban pertama yang dilakukan oleh khalifah itu adalah membentuk pengadilan yang engkau serukan. Ini adalah solusi satu-satunya. Ini adalah solusi yang mudah dan tidak ada penghalang sayr’i. Itu adalah obat penawarnya.”

Kalau kita merenungi kata-kata Syaikh Abu Muhammad al-Adnani, kita tidak akan mendapati kesimpulan seperti yang disebut oleh Muqawamah. Mungkin inikah yang dikatakan Imam Syafi’i rahimahullah,
و عين الرضا كل عيب كليلة و لكن عين السخط تبدي مساويا
Dan pandangan rida (cinta) menghapus segala aib
Sedangkan pandangan benci menampakkan kejelekan.

Sumber: http://manusiaonline.blogspot.com/2014/05/bantahan-terhadap-situs-muqawamah-sebut.html?m=1, dengan penyesuaian

Penulis: Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Jihad: Pertarungan Sepanjang Masa Meninggikan Kalimat Allah (69)
Fikih Hanbali: 4 Macam Air Thahur (1/4) (68)
Lihatlah Betapa Mengagumkannya Imam Nawawi (62)
Mukadimah Pembelaan terhadap Syaikh Al Maqdisi (75)
Hukum Memenggal Kepala Orang Kafir dan Murtad dalam Perang (67)