Oleh Abu Mujahid As Sadani
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

Tempat dan metode ustaz Hajuriyyun mengajar murid-muridnya... Ana kira mantap dicontohi sedikit-sedikit. Di antaranya para ustaz tidak mau mengambil upah apa yang telah diajarkan. Jadi para santri hanya bayar uang makan mereka. Kadang-kadang jika ustaznya memiliki kelebihan, mereka gunakan harta mereka untuk kebutuhan santrinya.

Markiz mereka klasik. Tidak ada tingkatan SD, SMP, SMA. Jadi santri mereka bisa bertahun-tahun untuk mengambil ilmu hingga mereka menguasai ilmu tersebut. Ustaz mereka tidak mengharap minta digaji.

Untuk menafkahi kluarga mereka. Mereka bekerja dengan tangan mereka sendiri (berkebun, dagang) dan mereka terbiasa dengan hidup biasa-biasa saja.

Seperti 'Ustadz 'Abdul Wahhab, Samarinda. Dia ini mempunyai penghasilan ratusan juta perbulan. Tapi dia lebih memilih hidup di kebunnya yang jarak jalan raya ke tempat dia 30 km. Jalan menuju tempat dia masih jalan merah. Di sana dibikin kampung. Ikhwah yang mau tinggal di kebun dia atau di markiz dia dibikinin rumah bagi yang sudah berkeluarga dan mereka ini digaji. Kerja mereka waktu itu berkebun ubi, dll. Mereka belanja bahan pokok sebulan sekali ke kota. Dengar dari teman waktu itu. Mereka kerja pagi. Sebelum Zhuhur selesai. Terus hari-hari mereka diisi dengan kegiatan agama. Masyaa Allah.

Ini patut dicontoh yaa mbah mbah. Mudah-mudahan ansar negara bisa seperti 'Ustadz Talafi 'Abdul Wahhab Hajuriyyun.

Penulis: Abu Mujahid As Sadani
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Alim yang Beramal atau Mujahid yang Mukhlis? Mana yang Lebih Baik? (76)
Hukum Memenggal Kepala Orang Kafir dan Murtad dalam Perang (67)
Bantahan untuk Muqawwamah yang Sebut Pernyataan Syaikh Al ‘Adnani Kontradiksi (1-2/4) (95)
Mukadimah Pembelaan terhadap Syaikh Al Maqdisi (75)
Apakah Ada Dalil Larangan Berbekam di Hari Rabu? (79)