Oleh Abu Mujahid As Sadani
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

Waktu perang Hajuriyyun dengan Hutsi di Dammaj, kubu Luqmaniyyun merasa senang karena menganggap itu efek dari pembangkangan Yahya Al Hajuri terhadap ulama (Rabi' Al Madkhali CS) Waktu Perang Dammaj, ana masih duduk bersama Al Hajuri. Pernah Al Qa'idah mau membantu mereka. Mereka tolak. Karena mereka tak mau berjihad bergabung dengan teroris, kata mereka. Kenapa mereka bisa diobrak-abrik. Karena di dammaj waktu itu ada dua kubu: fanatik Hajuri dan fanatik 'Abdurrahman Al Adani, hingga mudah musuh mereka untuk melemahkan mereka.

Hikmah dari Perang Dammaj untuk ana. Ana jadi tahu tentang jihad qital hingga ana tahu perang yang terjadi di Syam dan ana berterima kasih dengan saudara Firman Hidayat karena beliau mengenalkan ana tentang ISIS sebelum penaklukan Maushul hingga ana kenal dengan akun anashir negara seperti Qolbu Tersentuh, Kalamullah, My Heart Thouced, Idrus Ibnu Sati Riau. Dari mereka ini lah ana jadi kenal pembahasan tagut, jihad, syirik hukum. Hingga ana kenal dengan mbah-mbah di sini yang masyaa Allah. Sangat banyak memberi faedah dalam pekara agama ini. Barakallahu fi kum.

Abu Turob dan Abu Hazim, merekalah yang membawa fitnah perselisihan Hajuri dengan Al Adani di Indon hingga di Indon yang lulusan Dammaj jadi pecah dua kubu. Luqmaniyyun fanatik Al Adani dan Turabiyyun dan Hazimiyyun fanatik dengan Hajuri. Dahsyat perselisihan mereka. Ana sempat pusing waktu itu. Baru mengenal dakwah sunah ala Rojali, eh, di tuduh sesat oleh ustaz lulusan Dammaj: Luqmam, ‘Umar As Sewed. Baru duduk ngaji dengan Luqman (Madkhaliyyyun), eh, dituduh sesat oleh Hajuriyyun. Goyah ana waktu itu. Al hamdulillah sekarang kenal negara dan di sini pun ana diuji dengan perselisihan antara ansar negara. Semoga Allah selalu membimbing ana agar tetap di atas al haqq.

Hajuri di Indo tepecah jadi dua: Turabiyyun dan Hazimiyyun. Abu Turab di Sulawesi. Abu Hazim di Magetan. Cuma kita dikasih akal untuk mencerna dalil dalil yang dipapari oleh antara kubu yang berselisih. Markiz Abu Turab berlantai pasir. Terjadi debat juga masalah lantai masjid oleh murid Abu Turab dengan Abu Hazim. Kalau Abu Hazim pondoknya di Magetan, Mbah. Pondok meraka mengharamkan yayasan dan kotak infak. Mereka tidak mau minta biaya kepada murid. Muridnya hanya membayar uang untuk makan. Pondok mereka klasik. Patut dicontoh.

Kata mereka, lantai masjid Nabi waktu itu tidak beralas, hanya pasir, padahal Nabi mampu jika ingin mengalasinya. Terus Abu Hazim ditahzir sama Abu Turab dan Abu Fairuz Al Kudsi karena Abu Hazim markiz-nya ada Tarbiyatun Nisa' (pondok pesantren wanita) yang tak ada contohnya dari Nabi, kata mereka.

Dengan syarat tidak ada pondoknya, wanita boleh belajar di markiz, tapi tidak boleh nginap di pondok. Mereka berdalil dengan hadis yang bunyi, "Wanita tidak boleh membuka pakaian mereka, selain dari rumah meraka.” Pondok bukan rumah mereka. Begitu hujjah yang melarang Tarbiyyatun Nisa' (TN).

Kata Hajuriyyun. Selain mereka adalah Ahlul Bid'ah, seperti Luqmaniyyun, Rojaliyyun, dan Zulkarnain Makassar.. Wah, mereka betul-betul parah. Sekarang. Kalau dengar kabar burung. Kalau mau duduk taklim di majelisnya Luqmaniyyun. Di data dulu. Cek pasukan. Kamu ngaji di mana dari mana.

Penulis: Abu Mujahid As Sadani
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Sekilas Perbedaan Taklid dan Ittiba' (87)
Mempelajari Mazhab Mayoritas Negeri Ini: Fikih Maliki (79)
Dibantah Ulama Asy'ariyyah, Apakah "LiputanIslam" Mau Bilang Ulama Sunni Asy'ari Hoaks dan Takfiri? (1/2) (66)
Lihatlah Betapa Mengagumkannya Imam Nawawi (62)
Dinamika Perselisihan Talafi Hajuriyyun (97)