Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Fikih Menyerang Musuh yang Bersembunyi di Pasar

Oleh Anas Ibn Ali An Nasywan

Pertanyaan:
Ada sebuah kota tempat perniagaan yang besar yang di dalamnya terdiri dari pasar dan lokasi-lokasi para tagut yang berada dalam pasar. Seandainya para mujahidin menghantam mereka, tentu orang-orang akan berkata, "Mereka
(yaitu para mujahidin) menghantam pasar," dan boleh jadi sebagian orang awam yang berdagang terkena hantaman ini, maka bagaimana solusi dan taktiknya?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi sudah menjadi kebiasaan para tagut bahwa mereka membentengi tentara-tentaranya dengan membuat markaz di dalam lingkungan yang ada penghuninya, di pasar-pasar, dan melindungi diri di tempat-tempat yang ada penduduknya untuk menghindari hantaman para mujahidin.

Musuh yang bertameng ini tidak lepas dari dua keadaan:

• Pertama, para tagut itu bertameng dengan orang kafir asli, seperti wanita-wanita dan anak-anak orang-orang musyrik, maka dalam kondisi seperti ini dibolehkan menembak dan menarget musuh meskipun menyebabkan orang yang dijadikan tameng terbunuh. Persoalan ini masuk dalam istilah fukaha yang biasa disebut dengan sergapan di malam hari.

Dalilnya adalah hadis Ash Sha’b bin Jatsamah radhiallahu 'anhu yang di dalam hadis tersebut disebutkan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya tentang penduduk sebuah negeri kaum musyrik yang diserang pada waktu malam (oleh kaum muslimin), lalu sebagian perempuan dan anak-anak mereka menjadi korban. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Kaum wanita dan anak-anak itu
termasuk bagian dari kaum musyrik tersebut.”
(Muttafaqun 'Alaih. HR. Bukhori (4/61, no. 3013) dan Muslim (3/1364, no. 1745 ))

Mereka itu (wanita-wanita dan anak-anak) meskipun pada awalnya tidak boleh ditarget, maka di saat mereka dijadikan tameng, boleh ditarget karena bersama lainnya, dan sungguh ulama usul menetapkan kaidah yang bagus dalam bab ini yang bunyinya,
"Kadang suatu hal yang terlarang menjadi halal bila dilakukan bersama yang lain, tetapi ketika sendiri tidak boleh."

Masuk dalam kondisi seperti ini juga adalah jika para tagut tersebut bertameng dengan kelompok-kelompok murtad.

• Kedua, para tagut menjadikan kaum muslimin sebagai tameng, di mana para tagut telah menguasai daerah kaum muslimin sehingga kaum muslimin terpaksa harus berada di bawah kekuasaannya, maka dalam kondisi seperti ini terdapat beberapa syarat bolehnya menarget musuh di daerah tersebut karena kerusakan yang merata.

~ Pertama, di saat tidak menarget para tagut tersebut karena menjaga kaum muslimin yang dijadikan tameng malah menyebabkan para tagut tersebut menguasai dan mengendalikan negeri-negeri kaum muslimin, meskipun prediksi ini dilakukan dengan dugaan kuat. Sungguh para ulama usul telah menetapkan kaidah-kaidah yang agung dalam bab seperti ini yang dari selah-selah ini kita bisa mengetahui di antara dua mudarat yang paling ringan untuk mencegah antara dua keburukan yang paling besar. Ketahuilah kaidah ini ialah, "Jika dihadapkan pada dua kerusakan, maka kerusakan yang lebih besar harus dihindari dengan cara mengambil kerusakan yang lebih ringan."

Dan juga kaidah,
“Memikul mudarat yang khusus untuk menolak mudarat yang umum."

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
“Demikian persoalan menjadikan tameng yang disebutkan oleh para fukaha, maka sesungguhnya jihad itu adalah menolak fitnah kekafiran, maka di dalam jihad juga terdapat mudarat yang lebih ringan dari kekafiran, oleh karena itu para fukaha sepakat bahwa kapan saja mudarat untuk kaum muslimin tidak bisa dicegah, kecuali harus mengakibatkan terbunuhnya orang-orang muslim yang dijadikan tameng, maka melakukannya
boleh.”
(Majmu'atul Fatawa, 20/52)

Dan dalam Al Hidayah disebutkan,
"Tidak mengapa menembak orang-orang kafir walaupun di tengah-tengah mereka ada orang muslim yang tertawan atau berdagang karena dengan menembak ini bisa menolak mudarat yang umum, yaitu dengan membela kehormatan Islam, sedangkan terbunuhnya tawanan dan pedagang adalah mudarat khusus karena jarang juga mereka tidak menjadikan tameng orang muslim, maka seandainya tidak jadi menyerang orang kafir karena di situ ada orang muslim, tentu orang kafir itu akan memanfaatkan kondisi ini, dan jika mereka menjadikan anak￾anak dan tawanan kaum muslimin sebagai tameng sehingga tidak bisa menembak orang-orang kafir saja, maka sebagaimana yang kami jelaskan tadi.”
(2/173)

Dan para tagut jika mereka mengetahui bahwa para mujahidin tidak akan menyerang mereka jika mereka menjadikan tameng kaum muslimin, maka mereka akan memanfaatkan situasi ini tanpa harus berperang, yaitu mereka menjadikan tameng tempat-tempat dan pasar-pasar yang ditinggali kaum muslimin, maka hal ini tidak diragukan lagi merupakan mudarat yang besar dan kerusakan yang nampak yang bisa menjadi sebab hilangnya agama Islam dan pemeluknya. Oleh karena itu para fukaha bersepakat bolehnya menembak musuh yang sedang menjadikan tameng kaum muslimin meskipun hal ini bisa menyebabkan terbunuhnya orang yang dijadikan tampeng, terkhusus jika dikhawatirkan terjadinya mudarat jika hal ini ditinggalkan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,
"Sungguh para ulama sepakat bahwa tentara orang-orang kafir jika mereka menjadikan tawanan kaum muslimin sebagai tameng dan dikhawatirkan terjadi mudarat terhadap kaum muslimin jika orang-orang kafir itu tidak diperangi, maka mereka boleh diperangi walaupun bisa menyebabkan terbunuhnya kaum muslimin yang dijadikan tameng oleh mereka."
(Majmu'atul Fatawa, 28/542)

Beliau juga berkata,
"Oleh karena itu para fukaha bersepakat bahwa kapan saja mudarat terhadap kaum muslimin tidak bisa ditolak, kecuali dengan menyebabkan terbunuhnya orang yang dijadikan tameng, maka melakukannya adalah boleh."
(Mashdarus Sabiq, 20/52)

~ Kedua, di saat tidak menarget para tagut tersebut karena menjaga kaum muslimin yang dijadikan tameng malah
menyebabkan melalaikan kewajiban jihad.

As Sarkhasi rahimahullah berkata,
"Demikian juga jika mereka menjadikan anak-anak muslim sebagai tameng, maka tidak mengapa menembak mereka walaupun penembak mengetahui bahwa tembakannya itu juga akan mengenai orang muslim... Kami katakan, memerangi mereka hukumnya wajib, jika kita membiarkan mereka karena ada orang yang dijadikan tameng tentu menyebabkan tertutupnya pintu untuk memerangi mereka, juga dengan membiarkan mereka bisa membahayakan kaum muslimin, sehingga mereka tidak ditembak karena mereka menjadikan anak-anak kaum muslimin sebagai tameng, maka dengan ini mereka akan berani menyerang kaum muslimin. Boleh jadi kita bisa juga mengenai orang-orang kafir saja di saat kita bisa dekat dengan kaum muslimin sehingga mudarat bisa dicegah."
(Al Mabsuth, 10:53)

~ Ketiga, dugaan kuat jika menembak orang-orang kafir malah bisa merealisasikan maslahat yang lebih besar meskipun hal ini bisa menyebabkan terbunuhnya orang yang dijadikan tameng.

~ Keempat, tujuan target penembak adalah membunuh musuh, bukan membunuh kaum muslimin.

As Sarkhasi rahimahullah berkata,
“Hanya saja penembak muslim tujuan dari targetnya harus kafir harbi karena jika memang ia bisa membedakan antara kafir harbi dengan orang muslim, maka ia harus memisahkannya dalam penyerangan, jika tidak bisa membedakan antara kaum muslimin dengan orang-orang kafir, maka ia cukup membedakan dengan niatnya karena itu mencukupinya.”
(Al Mabsuth, 10:65)

Dan dalam Bahrur Raiq disebutkan,
"Akan tetapi kita niatnya adalah menembak orang-orang kafir, bukan kaum muslimin, karena jika ia memang tidak bisa membedakan, maka ia bisa membedakan dengan niatnya dan
ketaatan itu sesuai kemampuan."
(5/82)

Maka dengan ini tidak ada dosa ketika menarget musuh dalam kondisi yang ditanyakan tadi dengan syarat harus terealisasikan syaratnya. Wallahu Ta'ala a'lam.

Sumber: Abu Malik At-Tamimi, Pertanyaan dari Nigeria, (Penyebar Berita: 1441 H), hlm. 9-18.

Penulis: Anas Ibn ‘Ali An Nasywan
Penerjemah: Hubbut Tauhid
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari