Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Hukum Menarget Sekolahan Internasional Kafir Bekas Penjajahan

Oleh Anas Ibn Ali An Nasywan

Pertanyaan:
Apa hukum menarget sekolahan-sekolahan internasional kafir bekas penjajahan kemudian menjadi pemerintahan di karenakan orang yang mengajar di dalamnya telah dikafirkan di mana setiap pagi ia melantunkan lagu kebangsaan yang terdapat lafal-lafal kekufuran dan terus diulang-ulang karena tuntutan, yaitu berbaiat kepada tagut.

Mereka (yang menarget sekolahan-sekolahan itu) berkata, “Sebagian sekolahan yang ada di situ di dalamnya memuliakan salib dan membaca kalimat-kalimat dari Injil yang diwajibkan di saat menghukum siswa. Demikian juga kuliah-kuliah itu juga mempelajari ilmu falsafah kufur dan materi-materi yang menyelisi Al Qur'an yang merupakan kekufuran contohnya bahwa bumi itu berputar, matahari itu diam, bumi itu bulat, dan yang lainnya dari hal-hal yang bertentangan dengan Al Qur'an.”

Jawaban:
Berkenaan dengan sekolahan-sekolahan pemerintah, maka jika ia berada di negara yang pemerintah dan penduduknya kafir, seperti negara Eropa dan yang semisalnya dari negara-negara salibis yang berada di Afrika, maka siswa/pelajar yang ada di dalamnya tidak lepas dari dua keadaan:

1. Mereka adalah anak-anak, gadis-gadis, dan wanita-wanita,
maka pada awalnya kita tidak boleh menarget mereka dan diperbolehkan menarget mereka hanya ketika mereka bersama yang lain, yaitu jika mereka berada di wilayah yang berdampingan dengan tempat target militer karena pada dasarnya tidak diperbolehkan memulai membunuh wanita-wanita dan anak-anak orang musyrik selagi mereka tidak berperang atau membantu dalam memerangi orang-orang muslim, namun ketika mereka memerangi dan membantu dalam memerangi kaum muslimin, maka boleh membunuh mereka.

2. Mereka adalah orang dewasa yang sudah baligh, maka mereka
ini ada dua keadaan:

• Para siswa itu dari kafir asli, maka hukum asal mereka adalah boleh ditarget dan dibunuh, akan tetapi membunuh mereka harus dipertimbangkan maslahat dan kerusakannya yang dipertimbangkan oleh Ahlus Sya’n (ahlul ‘ilmi dan umaro’), jika mereka tidak memerangi kita terlebih dahulu, maka mereka dibiarkan karena menyibukkan diri dalam memerangi orang yang memerangi kita lebih utama.

• Para siswa itu adalah anak-anak kaum muslimin yang melakukan kekafiran setelah mereka bergabung dengan  sekolahan-sekolahan ini, maka mereka itu adakalanya orang baligh yang kemurtadannya sah atau mumayyiz sebelum usia baligh, maka anak-anak yang belum baligh ini para ulama berbeda pendapat terkait sahnya kemurtadan mereka. Yang menjadi poin permasalahan adalah bahwa tidak ada maslahat dalam menarget sekolahan-sekolahan semacam ini pada fase ini, kecuali jika musuh menjadikan sekolahan-sekolahan itu sebagai tameng dan kita tidak bisa menyerang mereka, kecuali dengan menargetnya. Wallahu Ta'ala a'lam.

Adapun persoalan bumi itu bulat dan berputar, maka meyakininya adalah bukan kekufuran yang sharih (jelas) yang menyebabkan dihalalkan darahnya, dan untuk tambahan faedah saja, bahwa kebanyakan ahli ilmu berpendapat bumi itu bulat dan tidak ada yang memungkirinya, kecuali sebagian kecil dari mereka, dan sungguh Syaikhul  Islam Ibnu Taimiyyah dan yang lainnya berpendapat bahwa bumi itu bulat, dan inilah pendapat yang benar, maka tidak bisa kita menyangkal orang yang meyakininya, apalagi sampai mengafirkan dan menghalalkan hartanya. Wallahu Ta'ala a'lam.

Sumber: Abu Malik At-Tamimi, Pertanyaan dari Nigeria, (Penyebar Berita: 1441 H), hlm. 23-25.

Penulis: Anas Ibn ‘Ali An Nasywan
Penerjemah: Hubbut Tauhid
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari