Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Hukum Menyebarkan Buku Tanpa Izin Penguasa

Oleh Abu Hafsh Al Hamdani

Telah dikenal sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam,
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً،
“Sampaikan dariku walau hanya seayat.”[1]

Dan sabda beliau,
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِن نَارٍ
“Barang siapa yang menyembunyikan suatu ilmu, niscaya Allah akan mengekangnya dengan kekangan dari api neraka di hari kiamat.” [2]

Dan bahwa hendaknya seorang penuntut ilmu selalu menyebarkan ilmunya dan tidak menyembunyikannya. Tidak ada seorang pun dari kalangan ahli ilmu yang mensyaratkan penyebaran ilmu itu harus disetujui oleh penguasa. Bahkan kalau sekiranya kita rela dengan syarat ini, maka sama saja kita telah menjadikan ‘ulama as salathin (ulama-ulamanya penguasa) dan membatasi antara ahli ilmu dengan mengatakan (menyampaikan) al haqq.

Lihatlah para ulama, para dai, dan mushlihun (orang-orang yang mengadakan perbaikan), mereka senantiasa menyeru kepada Allah, menyusun, dan menulis (kitab-kitab) tanpa izin terlebih dahulu kepada seorang pun dari para penguasa. Bahkan Khidhir ‘alaihis salam memutuskan dan mengajari di hadapan Musa ‘alaihis salam.

Dan sungguh telah diriwayatkan dalam Shahihain,
فَقَالَ الأَعْرَابِيُّ: إِنَّ ابْنِي كَانَ عَسِيفًا عَلَى هَذَا، فَزَنَى بِامْرَأَتِهِ، فَقَالُوا لِي: عَلَى ابْنِكَ الرَّجْمُ، فَفَدَيْتُ ابْنِي مِنْهُ بِمِائَةٍ مِنَ الغَنَمِ وَوَلِيدَةٍ، ثُمَّ سَأَلْتُ أَهْلَ العِلْمِ، فَقَالُوا: إِنَّمَا عَلَى ابْنِكَ جَلْدُ مِائَةٍ، وَتَغْرِيبُ عَامٍ،
“Seorang badui datang, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya anakku bekerja padanya, lalu dia berzina dengan istrinya. Orang-orang berkata kepadaku, ‘Anakmu harus dirajam.’ Maka aku tebus anakku dengan seratus ekor kambing dan seorang hamba sahaya. Kemudian aku bertanya kepada ahli ilmu. Mereka berkata, “Sesungguhnya atas anakmu cukup dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun.”’”[3]

Hal tersebut tidak diingkari oleh imamnya para mufti dan penghulunya para Rasul (Nabi Muhammad), yaitu ketika ada ahli ilmu yang berfatwa sedangkan Nabi ada di antara mereka dan walaupun beliau yang lebih mengetahui daripada mereka. Dalam hadis ini menunjukkan bolehnya merangkai, menyusun, menulis, dan berfatwa bagi siapa yang mampu dalam hal itu tanpa perlu perizinan dari penguasa.

Barang siapa yang menyeru untuk menyebarkan kitab-kitab tanpa nama (penyusunnya), sungguh dia telah menyeru tanpa sunah dan contoh dari salaf. Allah telah memuliakan ilmu dengan mengaitkannya kepada ahlinya, bahkan tanpa pengetahun akan ahlinya, maka tiada kemulian baginya.

Alloh Ta’ala berfirman,
... ٱلرَّحۡمَٰنُ فَسۡئَلۡ بِهِۦ خَبِيرٗا ٥٩
“Dialah Yang Maha Pengasih, maka tanyakanlah (tentang-Nya) kepada yang mengetahui.”
(Al Furqan: 59)

Lalu bagaimana apabila shahibul ’ilmi (ahli ilmu) tidak kamu ketahui namanya, biografinya, dan sirahnya, kamu akan tahu bahwa dia mengetahui tentang Ar-Rahman atau jahil tentang-Nya. Bahkan penyebaran ilmu tanpa disebut nama penulisnya (sumbernya) merupakan pintu bagi siapa yang ingin mencacat agama ini, merubahnya, menambah, dan menguranginya yang dilakukan oleh orang-orang yang sesat. 

Kita adalah umat yang (menjaga) rantai sanad dan ini merupakan kekhususan (yang mulia) yang dimiliki umat ini. Tanpa sanad seorang bisa berkata sekehendak dirinya. Dengan itulah Taurat dan Injil dirubah karena ia ditulis dan dicatat tanpa rantai sanad dan tanpa nama para pencatatnya. Maka masuklah padanya tahrif (penyelewengan). Adapun Al Qur'an dan As Sunnah sungguh keduanya telah dijaga oleh Allah Jalla Sya’nuh dengan rantai sanad.

Telah berkata Muhammad bin Sirin rahimahullah,
«إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ»
“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”[4]

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah (dalam I’lamul Muwaqqi’in) menukilkan bahwasanya 'Umar radhiallahu ‘anhu (beliau adalah amirul mukminin serta penguasa) berselisih dengan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu kira-kira dalam seratus permasalahan dan ‘Umar tidak memenjarakan atau menghukum Ibnu Mas’ud karena sebab perselisihannya dan fatwanya yang menyelisihi mazhab ‘Umar.

Ilmu itu ada dua jenis: ilmu ‘aqli dan ilmu naqli. Ilmu ‘aqli adalah apa yang kebenarannya menurut datnya. Seperti berhitung, mantik, dan selainnya yang termasuk hal-hal akal. Adapun ilmu naqli, maka keabsahan dan kebenarannya itu tergantung melihat kepada penuturnya. Seperti fikih, tafsir, dan syarh-syarh hadis. 

Siapa yang menyeru untuk menyebarkan kitab tanpa nama penyusunnya, maka dia mubtadi’ yang menyelisihi jalan kaum mukminin, menyelisihi perbuatan para salaf, dan ahli ilmu, tanpa terkecuali. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan dalam hal ini. Begitulah, karena pembaca kitab yang majhul penulisnya tidak akan tahu kalau penulisnya itu Rafidhah, atau Yahudi, atau Nashrani.

Catatan Kaki:

[1] Dikeluarkan oleh Al Bukhari (8/567) no. 3461.

[2] Dikeluarkan oleh Hakim di Al Mustadrak (1/182) no. 346 dan Ibnu Hibban (1/298) no. 96.

[3] Muttafaqun 'Alaih. Dikeluarkan oleh Al Bukhari (7/35) no. 2695 dan Muslim (3/1324) no. 1698.

[4] Dikeluarkan oleh Muslim (1/12).

Penulis: Abu Hafsh Al Hamdani
Penerjemah: Harun
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari