Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Hukum Obat Mengandung Alkohol

Oleh Abdullah Ibn Abdurrahman Al Jibrin

Pertanyaan:
Sebagian obat mengandung alkohol dalam persentase tertentu. Apa hukum mengonsumsi obat semacam itu? Jika suatu obat itu harus mengandung alkohol, apa status hukumnya?

Jawaban:
Kami berpandangan bolehnya mengonsumsi obat semacam itu ketika memang dibutuhkan atau dalam kondisi terpaksa.

Alasannya adalah sebagai berikut:

Pertama, persentase alkohol dalam obat tersebut rendah.

Kedua, alkohol dalam obat tersebut sudah mengalami proses istihlak. Alkohol dalam hal ini tidaklah berbeda dengan nabiz (khamar yang berasal dari buah-buahan) yang dicampuri dengan air dalam jumlah besar sehingga pengaruh nabiz tersebut hilang.

Ketiga, obat yang beralkohol dikonsumsi untuk terapi penyakit bukan untuk dinikmati dengan dimakan atau diminum. Sedangkan ancaman keras terkait dengan khamar adalah menikmati khamar dengan meminumnya.

Keempat, alkohol dalam kondisi di atas tidaklah memiliki sifat memabukkan. Andai alkohol tersebut mematikan rasa pada satu bagian anggota badan atau pun keseluruhan badan, maka statusnya sebagaimana obat bius.

Kelima, obat yang bercampur alkohol tersebut tidaklah dinilai nikmat, berbeda dengan minuman memabukkan yang diminum untuk kenikmatan, jiwa pun menyukainya dan peminumnya bisa merasa ‘fly’. Lain keadaannya dengan obat yang mengandung unsur alkohol yang fungsi terapi dari obat tersebut tetap terjaga (meski mengandung alkohol) juga terjaga dari perubahan sifat fisiknya (sehingga berubah menjadi memabukan).

Namun jika ada obat yang bersih dari alkohol dan bisa menggantikan fungsi obat yang beralkohol maka kami berpandangan bahwa obat yang beralkohol tersebut tidak boleh dikonsumsi kecuali dalam kondisi darurat.

(Fatawasy Syar’iyyah fil Masailith Thibbiyyah, 1/26)

Sumber: http://ustadzaris.com/hukum-obat-beralkohol, dengan penyesuaian.

Penulis: 'Abdullah Ibn 'Abdirrahman Al Jibrin
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari