Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Ijmak Bolehnya Taklid dalam Masalah Akidah

Oleh Ali Ibn Khudhair Al Khudhair

Pertanyaan:
Apakah boleh taklid dalam masalah akidah? Dan apakah benar jika seseorang mengatakan 'Saya di atas akidah si Fulan'?

Jawaban:
Ya, hal tersebut boleh menurut ijmak, sebagaimana Imam As Safaraini menukil ijmak dalam kitab akidahnya, begitu juga Imam An Nawawi, tetapi yang harus ada dalam masalah akidah adalah keyakinan yang mantap. Allah ﷻ berfirman,
فَاسْأَلُواْ أَهْلَ الذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ (7)
"Maka bertanyalah kalian kepada ahlidz dzikr (ilmu) jika kalian tidak mengetahui."
(QS Al Anbiya: 7)

Maka Allah tidak mewajibkan, kecuali bertanya, kemudian bertaklid kepadanya, dan karena orang pada umumnya tidak memahami dalil-dalil, adapun mengharuskan mereka untuk menghafalnya adalah sesuatu yang di luar kemampuan.

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Bertakwalah pada Allah semampu kalian.”
(QS At Taghabun: 16)

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS Al Baqarah: 286)

Ucapan saya berada di atas akidah Fulan adalah benar jika yang dimaksud  dengan Fulan di sini adalah Rasulullah dan para sahabat, maka tidak ada larangan dalam masalah ini. Adapun jika yang dimaksud dengan Fulan adalah selainnya, maka harus dilihat siapa Fulan-nya ini, jika Fulan-nya ini berakidah ahli sunah seperti Imam Ahmad atau Imam Malik contohnya atau yang semisalnya, maka tidak ada larangan karena memang bolehnya bertaklid dalam hal ini, dan yang terbaik adalah hendaknya dia mengucapkan bahwa dia di atas akidah salaf atau akidah para sahabat dan yang semisalnya.

Sumber: Saluran Telegram, Al Fatawa lil 'Ulamal Mutakhkhirin, dengan penyesuaian.

Penulis: 'Ali Ibn Khudhair Al Khudhair
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari