Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Katakanlah, Kami Bersama Tha'ifatul Manshurah, Insyaa Allah

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Ketahuilah, bahwasanya orang-orang yang tersesat, Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya, mengatakan kepada masyarakat seperti berita yang telah sampai kepada kami dari orang yang pernah mendengar perkataan mereka di fTalk, “Jika kami memang salah, maka jelaskanlah kepada kami dengan dalil-dalilnya. Namun jika kalian yang salah, maka kalianlah yang berada di neraka.”

Ini adalah dalil retorika yang bertujuan untuk menakut-nakuti lawan dan mengaburkan perkaranya. Apalagi mereka berbicara dengan masyarakat yang sedikit ilmu dan pengetahuannya (tentang urusan syariat). Telah diceritakan kepada saya bahwa banyak di antara mereka adalah orang 'ajam sehingga mereka sulit memahami detail-detail permasalahan ini disebabkan oleh kendala bahasa.

Maka saya katakan kepada saudara-saudara sebagai jawaban atas syubhat Abu Maryam Al Mukhlif ini, “Katakanlah kepada mereka, “Jika kalian keliru, maka kalian bukan kelompok yang selamat, namun kalian adalah kelompok Khawarij yang melesat keluar dari Islam, kalian menjadi anjing-anjing neraka pada hari kiamat.” Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Para ulama telah berbeda pendapat perihal mengafirkan orang-orang seperti mereka. Cukuplah hal ini sebagai bahaya yang besar bagi orang yang mengharapkan (rida) Allah, (kenikmatan surga di) hari akhir dan banyak mengingat Allah Ta’ala! Kita tidak wajib mengetahui bantahan atas syubhat-syubhat dan perdebatan-perdebatan kalian karena hal itu merupakan spesialisasi para ulama. Kami berpegang teguh dengan Islam, iman, dan tauhid secara global. Perkara-perkara rincian yang telah kami ketahui dengan cara mencari kejelasan secara hati-hati dan dengan cara ilmu yang benar, maka kami mengatakannya dan kami mengamalkannya. Adapun apa yang belum kami ketahui, maka kami tidak akan mengatakannya, justru kami mengatakan, “Allah yang lebih mengetahui.” Apa yang kami pegang teguh —dengan karunia Allah- adalah kebenaran yang nyata, jalan yang lurus, dan manhaj yang jelas lagi terang. Adapun angin badai syubhat-syubhat kalian yang telah membutakan kalian dari cahaya kebenaran, maka para ulama kaum muslimin tidak harus repot-repot membantah seluruhnya, sudah tentu kami lebih tidak wajib lagi untuk meyakini dan mengetahuinya. Sekalipun kalian membesar-besarkan perkaranya, mem-blow up-nya, dan kalian menonjolkannya sebagai perkara-perkara syariat yang qath’i dan perkara-perkara yang sudah pasti menjadi bagian dari agama Islam (dharuriyat al Islam). Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitab Syifa’ul ‘Alil saat membahas sikap sebagian ahli bidah yang menentang ayat-ayat Alquran yang begitu jelas dengan syubhat-syubhat mereka, “Hal seperti ini dalam Alquran terlalu banyak untuk disebutkan, maka tidak diterima sebuah syubhat yang ditegakkan di atas penyelisihan terhadap Alquran, maka kedudukan syubhat tersebut adalah kedudukan celaan terhadap perkara-perkara yang pasti dalam Islam sehingga kedudukan syubhat tersebut tidak perlu ditengok dan seorang ulama tidak harus menguraikan setiap syubhat yang mengenai setiap orang karena hal itu merupakan pekerjaan yang tidak ada habisnya.” Tidak berbahaya bagi kita jika kita keliru dalam masalah memberi uzur kepada seseorang atau keliru dalam memvonis seseorang jika dibangun di atas ijtihad, kehati-hatian, mengikuti mayoritas ulama, orang saleh, dan orang baik di tengah kaum muslimin. Tidak berbahaya bagi kita jika kita tidak mengetahui perkara-perkara ini juga dan kita tidak mengetahui hasil tahqiq (kesimpulan penelitian secara mendalam) atas perkara-perkara ini karena ia merupakan perkara-perkara yang diketahui oleh para ulama yang ahli dan spesialis di bidang tersebut. Tidak, demi Allah, tidak akan menjadi penduduk neraka (hanya gara-gara) orang yang tidak mengetahui “apakah ada udzur dengan kebodohan dalam perkara tauhid atau tidak ada udzur?” atau orang yang tidak tahu atau keliru dalam perkara “apakah kekafiran dan kesyirikan itu satu perkara yang sama ataukah dua hal yang berbeda?” atau “bagaimana vonis atas seseorang tertentu dari kalangan ahli kiblat apakah ia telah keluar dari agama Islam atau belum keluar?” atau “apakah jemaah A dan kelompok B dari kalangan ahli kiblat adalah orang-orang kafir atau bukan?” kecuali jika kekafiran yang terang dan nyata yang seluruh ulama tidak berbeda pendapat tentangnya dan kaum muslimin juga tidak berbeda pendapat tentangnya seperti kekafiran orang-orang Yahudi, Nashrani, Majusi, penyembah berhala yang sama sekali belum pernah masuk Islam, atau kekafiran Musailamah Al Kadzdzab, dan selainnya yang mengklaim kenabian, atau menyatakan secara terang-terangan kebolehan beribadah kepada selain Allah dan mengambil Ilah bersama Allah, atau secara terang-terangan beribadah kepada selain Allah, atau seperti kekafiran orang yang terang-terangan menyatakan dirinya berpindah kepada agama selain Islam dan keluar dari Islam, atau seperti kekafiran orang yang mencaci maki Allah dan Rasul-Nya, atau memperolok-olokkan agama Islam secara jelas dan terang-terangan, dan hal yang semisal dengannya! Maka di sini kita kembali kepada pemilah-milahan antara tingkatan-tingkatan berbagai perkara dari aspek tsubut (kepastian) dan kejelasannya sebagai bagian yang berasal dari Allah dan agama-Nya, antara yakin dan qath’i dengan zhann (dugaan) dan keragu-raguan. Maka perkaranya kembali kepada perkara yang telah pasti diketahui sebagai bagian dari ajaran Islam (ma’lum minad din bidh dharurah) dan perkara yang semisalnya mesti diketahui dengan perkara yang kedudukannya tidak seperti itu. Sudah sama diketahui bahwa perkara (ini ma’lum minad din bidh dharurah atau bukan) ini merupakan perkara yang relatif dan subyektif. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah Ta’ala, “Demikian pula status sebuah perkara sebagai perkara yang qath’i atau zhanni adalah perkara yang sifatnya relatif, tergantung keadaan orang-orang yang meyakini (memandang) perkara tersebut, bukan tergantung keadaan perkara itu sendiri.  Terkadang seseorang mengetahui perkara-perkara secara qath’i (pasti dan yakin) dengan cara dharurah (pasti) dan cara penerimaan yang diketahui pasti kebenarannya, sementara orang lain tidak mengetahui perkara-perkara tersebut, tidak dengan cara yang pasti dan tidak pula dengan cara yang zhanni (dugaan dan tidak yakin atas kebenarannya). Terkadang seseorang itu sangat cerdas, daya ingatannya kuat, dan pemahamannya (terhadap sebuah perkara) cepat sehingga ia bisa mengetahui kebenaran dan memastikannya, sementara orang lain tidak memahaminya dan tidak mengetahuinya, tidak secara yakin dan tidak pula secara dugaan, maka perkara qath’i (yakin) dan zhann (dugaan) itu tergantung kepada dalil-dalil yang sampai kepada seseorang dan tergantung kepada kemampuannya dalam memahami dalil, sementara manusia itu berbeda-beda kemampuannya dalam mendapatkan dalil-dalil dan memahami dalil-dalil, maka status sebuah perkara sebagai suatu perkara yang qath’i atau zhanni bukanlah sebuah sifat yang tetap melekat bagi pendapat yang diperselisihkan tersebut sehingga dikatakan bahwa setiap orang yang menyelisihi perkara tersebut dinyatakan telah menyelisihi perkara yang qath’i. Justru ia merupakan sifat bagi kondisi orang yang melihat, mencari dalil, dan meyakini (perkara tersebut), dan hal itu merupakan perkara yang manusia berbeda-beda (tingkatannya).” Maka katakanlah kepada Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya, “Insya Allah, kami berada di atas jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum, juga jalan para salaf kami yang saleh, tidak berlebih-lebihan, tapi juga tidak meremehkan. Kami bersama kelompok terbesar kaum muslimin, bersama para ulama, orang-orang saleh, orang-orang baik, dan mujahidin, yang telah terbukti kebaikan dan kesalehan mereka, telah nampak jelas keutamaan dan perjuangan mereka dalam Islam, baik secara keilmuan, dakwah kepada kebaikan, jihad di jalan Allah, dan pengorbanan karena Allah Ta’ala. Kami bersama thaifatul manshurah, insyaa Allah, yang senantiasa eksis dan meraih kemenangan di atas kebenaran, berperang di jalan Allah sampai hari kiamat.”

Mereka itu telah dikenal luas dan sosok-sosoknya telah diketahui oleh setiap orang yang berakal sehat. Jalan mereka juga sangat jelas. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

Adapun Abu Maryam Al Mukhlif yang sesat dan para pengikutnya dengan perangainya, pengaburan, kebohongan, dan sikap mengada-ada mereka terhadap Allah dan rasul-Nya, juga sikap mereka yang membuat keragu-raguan dan “dongengan-dongengan”, maka itu bukanlah jalan generasi Islam yang saleh tersebut. Justru itu merupakan kesesatan, bidah, kefasikan, dan keluar dari ajaran agama Islam. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Kami berlepas diri darinya dan menjauhinya. Allah Ta’ala berfirman,
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Maka tetaplah engkau (di atas jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan juga orang yang bertaubat bersamamu dan janganlah kalian melampaui batas. Sungguh Dia Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.”
(QS. Hud [11]: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قُلْ: آمَنْتُ بِاللهِ، ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah, “Aku beriman kepada Allah,” lalu istikamahlah.”
(HR. Muslim, Ahmad, dan lain-lain)

Beliau juga bersabda,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ "
“Tiga perkara yang barang siapa pada dirinya terdapat tiga perkara tersebut niscaya ia akan mendapatkan manisnya keimanan: (1) Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari siapapun juga, (2) ia mencintai orang lain semata-mata karena Allah, dan (3) ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelematkannya dari kekafiran tersebut sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kesesatan, bantahan-bantahan, dan keragu-raguan yang ditimbulkan oleh orang-orang sesat dan ahli bidah itu hampir-hampir tidak ada hentinya karena mereka adalah pengikut bid’ah dan hawa nafsu. Hampir-hampir tidak ada yang bisa menghentikan mereka sampai mereka bertabrakan dengan batu keras realita dan mereka melihat azab yang pedih atau mereka dikejutkan oleh kematian, maka pada saat itulah tidak ada tempat untuk kembali dan menyesal. Kami berdoa kepada Allah semoga melindungi kami dan kalian dari fitnah-fitnah yang mendatangkan kesesatan.

Misalnya, Abu Maryam Al Mukhlif akan mengatakan kepada kalian bahwa apa yang ia dakwahkan adalah bagian dari ajaran agama dan perkara yang wajib diikuti oleh seorang muslim, di mana seorang muslim tidak dianggap istikamah sampai ia istikamah di atas ajaran tersebut dan ia tidak akan begini sampai ia begini dan begitu. Begitulah ia akan mengatakan, seperti yang sudah kalian ketahui dan rasakan sendiri dari sikap mereka yang membesar-besarkan perkara dan mengada-ada atas Allah dan agama-Nya.

Namun cukup bagi kalian perkara-perkara yang jelas dan terang di dalam Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, jalan hidup para salaf kita yang saleh dan orang-orang yang meniti jejak langkah mereka seperti yang telah kami sebutkan di atas.

Katakanlah kepada Abu Maryam Al Mukhlif, “Sesungguhnya Allah memerintahkan,
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau (di atas jalan yang benar) sebagaimana telah diperintahkan kepadamu!”

Di manakah gerangan Allah memerintahkan kami dengan apa yang engkau perintahkan, wahai Abu Maryam Al Mukhlif?! Ia tidak akan menemukan jawaban, kecuali mengada-ada, klaim, dan kebohongan-kebohongan yang berguguran!

Katakanlah oleh kalian kepadanya, “Sesungguhnya Allah memberikan tambahan perintah kepada kami dengan berfirman,
وَلَا تَطْغَوْا
“Dan janganlah kalian melampaui batas!”

Maksudnya janganlah kalian melampaui batasan yang telah ditetapkan Allah dan agama yang telah dijelaskan oleh-Nya kepada kalian. Sikap melampaui batas biasanya terjadi dengan penambahan dan melewati batasan, namun terkadang juga dengan pengurangan dan meremehkan karena dua cara tersebut sama-sama menyelisihi (ajaran agama) dan keluar dari batasan.

Atau bisa juga “Dan janganlah kalian melampaui batas!” menunjukkan larangan untuk mengurangi dan meremehkan juga dari aspek keindahan sastra lainnya, yaitu mencukupkan dengan penyebutan satu lafal.

Maksudnya, Allah memerintahkan kita untuk istikamah di atas perkara yang Allah perintahkan kepada kita dan Allah melarang kita untuk keluar darinya dan melampaui batasannya.

Apa yang Allah perintahkan adalah perkara yang telah jelas dan terang di dalam Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Perkara yang masih membutuhkan penjelasan pun telah diuraikan, dijelaskan, dan dipaparkan oleh para ulama dalam buku-buku mereka. Allah berfirman,
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ
“Dan Allah telah menjelaskan secara terperinci apa yang Allah haramkan atas kalian.”
(QS. Al An’’am [6]: 119)

Jika tidak seperti itu, maka ia bukanlah perkara yang Allah perintahkan. Hanya saja ulama mengatakan: Saya berharap perkaranya begini, saya khawatir perkaranya begini.

Adapun apa yang Allah perintahkan yang bisa dikatakan secara mutlak, “Allah telah memerintahkannya,” adalah perkara yang telah jelas, tidak samar lagi, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْحَلَالُ بَيِّنٌ، وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ
“Perkara yang halal telah jelas dan perkara yang haram telah jelas dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan beliau bersabda,
«مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ، فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ، وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ»
“Apa yang aku larang kalian dari mengerjakannya, maka jauhilah ia, dan apa yang aku perintahkan kalian untuk melakukannya, maka kerjakanlah ia sesuai kemampuan kalian. Karena sesungguhnya kebinasaan umat-umat sebelum kalian disebabkan sikap mereka yang banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka.”
(HR. Muslim)

Abu Maryam Al Mukhlif yang sesat tidak mengatakan, "Saya harap, saya khawatir," tapi ia mengatakan, "saya yakin, saya pastikan." Ia mengatakan, "Inilah hukum Allah, inilah agama Allah." Hal itu ia katakan dalam perkara-perkara yang semua ulama mengetahui itu adalah perkara kajian dan ijtihad yang masih memiliki beberapa kemungkinan dan sandarannya adalah (perbedaan) memahami dalil, di mana pada perkara-perkara tersebut para ulama yang mengkaji terlibat perbedaan pendapat.

Sementara itu kepastian (qath’i) dan keyakinan dalam perkara tersebut adalah ketergelinciran, biasanya sulit bagi seseorang untuk mencapai taraf yakin dalam semua perkara tersebut atau sebagian besar perkara tersebut karena yang bisa diraih adalah zhann (dugaan kuat).

Allah Ta’ala telah berfirman, 
وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ
“Dan janganlah kalian mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidah kalian secara dusta, "Ini halal dan ini haram," untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.”
(QS. An Nahl [16]: 116)

Wahai saudara-saudara, renungkanlah pula secara mendalam ayat lain dalam surat Asy Syura, bacalah tafsirnya, dan ketahuilah makna-maknanya yang agung,
فَلِذَلِكَ فَادْعُ وَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَقُلْ آمَنْتُ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنْ كِتَابٍ وَأُمِرْتُ لِأَعْدِلَ بَيْنَكُمُ اللَّهُ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ لَا حُجَّةَ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ اللَّهُ يَجْمَعُ بَيْنَنَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah, "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kalian. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kalian amal-amal kalian. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kalian, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (kita).""
(QS. Asy Syura [42]: 15)

Cukuplah Allah bagi kita dan Dialah sebaik-baik pelindung.

Inilah pengantar-pengantar dan wasiat-wasiat yang saya sampaikan sebelum menjawab atas pertanyaan (tentang jihad defensif) sebagai pengingat bagi orang-orang yang lengah dan peringatan kehati-hatian bagi orang-orang yang jujur dan menginginkan kebenaran dan kebaikan. Saya tidak bermaksud menguraikan secara menyeluruh, untuk meringkas uraian. Ia hanyalah kalimat-kalimat nasihat, kita berdoa kepada Allah, semoga dengannya memberi manfaat kepada saudara-saudara para pemuda Islam.

Adapun bantahan atas kesesatan-kesesatan Abu Maryam Al Mukhlif dan apa yang ia namakan dalil-dalil “qath’i” atas kesesatannya, maka semoga Allah memudahkan kesempatan lain untuk hal itu. Atau semoga Allah mencukupi kita dengan orang yang lebih baik dari saya, yaitu para penuntut ilmu dan ulama yang bersabar atasnya dan mengharapkan pahala di sisi-Nya sehingga ia memenuhi timbangan dengan menguraikan dan menjelaskan kebohongannya. Hanya Allah semata yang memberi taufik.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umarbr/br/