Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Kedustaan Al Mukhlif dalam Bidang Amalan dan Realita

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Abu Maryam Al Mukhlif juga telah berdusta dalam banyak perkara, baik dalam bidang ilmu maupun amalan.

Di antara kedustaan Abu Maryam Al Mukhlif dalam bidang amalan dan realita adalah ia selalu berkata kepada para pengikutnya dan menebar isu di tengah masyarakat bahwa Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya telah berdebat dengan saudara-saudara dari kalangan mujahidin, ulama-ulama mujahidin, dan syekh-syekh mujahidin. Mereka menceritakan telah menyampaikan dalil-dalil mereka kepada saudara-saudara dari kalangan mujahidin, ulama-ulama mujahidin, dan syekh-syekh mujahidin. Sementara mujahidin tidak menjawab dalil-dalil tersebut sebab mujahidin tidak memiliki hujjah.

Ini merupakan sebuah kedustaan yang nyata. Sesungguhnya mujahidin, maksud saya sebagian besar komandan, ulama, dan syekh mujahidin tidak mengetahui kalau di dunia ini ada Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya. Sebagian besar komandan, ulama, dan syekh mujahidin tidak pernah mendengar fitnah (berita dan kesesatan) mereka, juga tidak memiliki berita apapun tentang mereka, kecuali berita sambil lalu yang disampaikan oleh sebagian saudara bahwa ada beberapa orang sesat di negeri polan yang mengafirkan seluruh kaum muslimin dan meyakini saat ini tidak ada jihad dan keyakinan-keyakinan sesat lainnya.

Saya percaya tulisan-tulisan Abu Maryam Al Mukhlif dan tulisan-tulisan para pengikutnya tidak sampai kepada sebagian besar komandan, ulama, dan syekh mujahidin. Kalau pun tulisan-tulisan tersebut sampai kepada mereka, maka mereka tidak akan melihatnya dan tidak ada perlunya bagi mereka untuk melihatnya dan membuang-buang waktu dengan kesibukan melihatnya. Justru kedudukan mereka lebih tinggi dan mereka telah memiliki pekerjaan-pekerjaan besar dan amalan-amalan agung yang menyibukkan mereka.

Semoga Allah meneguhkan dan menolong mereka. Mereka mengetahui bahwa tulisan-tulisan tersebut hanyalah ujian dan kesesatan, tak lebih dari badai yang bertiup sesaat kemudian berlalu dan lenyap tak berbekas, dan tidak lebih besar daripada apa yang telah mereka ketahui dan pengalaman yang telah mereka lalui sebelumnya.

Maka datanglah sang pendusta yang buruk ini dan para pengikutnya yang bodoh dan terpedaya, lantas berdusta kepada masyarakat yang bodoh, orang-orang 'ajam yang perlu dikasihani, dan orang-orang seperti mereka. Ia dan para pengikutnya berkata kepada mereka, “Inilah hujjah-hujjah kami, kami telah menuliskannya dan mengatakannya kepada mujahidin, namun mereka tidak mampu membantahnya.”

Mereka berargumen dengan tidak adanya bantahan dari mujahidin dan mereka berdusta kepada orang-orang yang lugu dan lemah. Mereka tidak mengetahui bahwa biasanya mujahidin tidak akan membantah orang-orang seperti mereka, kecuali dengan bantahan seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا
“Katakanlah, “Masing-masing pihak beramal sesuai dengan keyakinannya dan Rabb kalian Yang lebih mengetahui pihak manakah yang lebih lurus jalannya.””
(QS. Al Isra’ [17]: 84)

Semoga Allah membalas para pendusta. Manhaj mujahidin, ulama-ulama, dan syekh-syekh mereka, pendukung-pendukung mereka, dan para ulama kaum muslimin yang dikenal luas dengan keilmuan, kesalehan, dan dakwahnya kepada agama Allah dan tauhid sudah sangat terkenal dan tertulis dalam perkara-perkara ini dan perkara-perkara lainnya.

Jadi apa perlunya menulis bantahan atau menyibukkan diri dengan mendebat seorang jago klaim lagi pendusta yang sembrono? Bahkan sekadar membayangkan dan mengetahui mazhabnya sudah cukup untuk yakin bahwa ia adalah kebatilan, kesesatan yang nyata, dan keluar meninggalkan agama!

Maka hendaklah seorang saudara yang muslim memahami hal ini. Tidak setiap orang harus dibantah dan tidak setiap penanya harus dijawab. Begitulah Alquran dan sunah mengajarkan kepada kita. Dalam syair disebutkan,
Jika orang bodoh berbicara, janganlah kau jawab
Yang lebih baik dari jawaban adalah sikap diam

Dalam syair lainnya dikatakan,
Jika tiap kali anjing menggonggong kau jejali mulutnya batu
Tentu sebongkah batu berharga satu takaran emas

Ini adalah pemahaman yang sudah terkenal dan diketahui oleh para ulama. Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا
“Dan barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, niscaya engkau sedikit pun tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah (untuk menolongnya).”
(QS. Al Ma'idah [5]: 41)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah diberi arahan oleh Allah Ta’ala dengan firman-Nya,
نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ
“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Alquran kepada siapa pun yang takut terhadap ancaman-Ku.”
(QS. Qaf [50]: 45)

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar