Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Keserupaan Kaum Khawalif dengan Kaum Khawarij

Oleh Ashim Ibn Muhammad Al Burqawi

Di antara keserupaan kaum Khawalif yang suka menebar berita bohong dengan Khawarij adalah istidlal mereka dengan nushushul Kitab dan As Sunnah tanpa pemahaman atau pengkajian atau pandangan serta penempatan ucapan ulama bukan pada tempatnya.

Mereka menyerupai Khawarij dalam sifat yang dilabelkan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa mereka, “Membaca Alquran sembari tidak melewati tenggorokan mereka,” yaitu tidak melewatinya untuk sampai ke hati yang mana ia adalah tempat akal dan pemahaman.

Di mana kaum Khawalif menelusuri bantahan-bantahan salaf terhadap Khawarij dan mengambil takwil mereka bagi kekafiran yang ada pada firman-Nya Ta’ala, “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir,” saat Khawarij menempatkannya terhadap setiap orang yang maksiat kepada Allah, bahkan mereka menempatkannya dan juga ayat-ayat yang semisalnya —sebagaimana yang lalu- terhadap Al Hakamain, ‘Ali, Mu‘awiyyah, dan para pengikut mereka.

Terus para Khawalif itu mengambil ucapan-ucapan salaf tentang bantahan mereka terhadap perbuatan Khawarij ini, terus menukilnya kepada selain tempatnya yang tepat, dan menempatkannya terhadap kaum murtaddin dan musyrikin dari kalangan para tagut hukum yang telah melakukan beraneka warna dan ragam kekafiran yang nyata dan kemusyrikan yang jelas, yang panjang penjabaran, penjelasan, serta penelusurannya.

Terus mereka menjadikannya dengan perbuatan dan tadlis mereka ini (sebagai kufrun duna kufrin) atas lisan salaf yang padahal pada zaman mereka sama sekali tidak pernah ada bandingan-bandingannya.  Ini diambil oleh orang-orang dari kalangan tokoh mereka atas dasar kurang amanah dalam hal bergaul dengan dalil-dalil dan nushush, sebagaimana yang kami ketahui mereka. Umumnya mereka serabutan di dalamnya karena kekurangan pemahaman mereka, tipisnya fikih mereka, serta kelemahan pengetahuan mereka terhadap dilalat ayat Al Kitab dan asbab nuzul-nya, sebagaimana ia keadaan Khawarij, ini dengan berbaik sangka terhadap mereka.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Dan bidah-bidah pertama seperti bidah Khawarij, itu terjadi hanya berasal dari buruknya pemahaman mereka akan Alquran, padahal mereka tidak bersengaja menentangnya, namun mereka memahami dari apa yang tidak ditunjukkan oleh nas itu, kemudian mereka mengira bahwa itu mengharuskan takfir para pelaku dosa karena orang mukmin itu adalah orang yang baik lagi bertakwa. Mereka berkata, “Orang yang bukan baik lagi bertakwa, maka dia itu kafir dan kekal di neraka,” terus mereka berkata, “'Utsman, 'Ali, dan yang loyal kepada keduanya bukanlah kaum mukminin karena mereka memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan.” Sehingga bidah mereka itu memiliki dua mukadimah:
Pertama, bahwa orang yang menyelisihi Alquran dengan amalan atau dengan pendapat yang ia keliru di dalamnya, maka ia kafir.
Dan kedua, bahwa ‘Utsman, ‘Ali, dan yang loyal kepada keduanya adalah seperti itu…”
(Majmu' Al Fatawa, cet. Dar Ibnu Hazm, 13/20)

Saya berkata, tatkala para sahabat membantah mereka dan mendebatnya dalam macam pemahaman-pemahaman yang sakit ini, maka datanglah al mujadilun ‘anith thawaghit (para pembela para tagut), terus mereka mengambil bantahan para sahabat itu dalam konteks kondisi itu, seperti ucapan mereka, “Kufrun duna kufrin,” atau, “bukan kekafiran yang kalian yakini,” dan ucapan serupa yang disandarkan kepada mereka sedang sebagiannya pada sanad-sanadnya ada perbincangan, kemudian mereka menempatkan itu terhadap kemusyrikan para musyari’in (pembuat hukum/UU) yang nyata dan kekafiran para pakar undang-undang yang nyata jelas.

Syaikhul Islam berkata juga dalam 13/112, “Awal perpecahan dan munculnya bidah di dalam Islam adalah setelah terbunuhnya ‘Utsman dan pecahnya kaum muslimin, kemudian tatkala ‘Ali dan Mu’awiyyah sepakat atas tahkim, maka Khawarij mengingkari dan berkata, “Tidak ada putusan kecuali milik Allah,” serta mereka meninggalkan jemaah muslimin, maka Ibnu ‘Abbas diutus kepada mereka, kemudian beliau mendebat mereka, maka setengah mereka rujuk…” hingga ucapannya, “…bahkan mereka berkata, “Sesungguhnya ‘Utsman, ‘Ali, dan yang loyal kepada keduanya telah memutuskan dengan selain apa yang telah Allah turunkan, “Dan siapa yang tidak memutuskan dengan apa yang telah Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang kafir,”” terus mereka kafirkan kaum muslimin dengan hal ini dan yang lainnya.  Sedangkan takfir mereka itu dibangun di atas dua mukadimah yang batil:
Pertama, bahwa ini menyelisihi Alquran.
Kedua, bahwa orang yang menyelisihi Alquran adalah kafir, walaupun ia keliru atau merasa dosa seraya meyakini wajib dan pengharaman.”

Perhatikan ini baik-baik dan pahami benar karena sesungguhnya takfir Khawarij terhadap kaum muslimin dan para imam mereka yang memberlakukan syariat Allah, tatkala itu terjadi karena berdasarkan mukadimah yang rusak lagi batil ini, maka salaf seperti Ibnu Abbas dan yang lainnya[1] mendebat mereka dan membantah mereka dengan bantahan yang lalu dan oleh sebab itu Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma berkata sebagaimana yang telah lalu tentang Khawarij,
هم شرار الخلق انطلقوا إلى آيات أنزلت في الكفار فجعلوها على المؤمنين
“Mereka itu makhluk yang paling buruk, mereka mengambil ayat-ayat yang diturunkan tentang kuffar terus mereka menjadikannya terhadap mukminin.”

Terus datang kaum Khawalif itu yang mana mereka adalah orang yang paling serupa dengan kebodohan pemikiran Khawarij dan kekurangpahaman mereka serta kekerdilan fikih mereka dan mereka mengambil ungkapan-ungkapan salaf tentang kaum muwahhidin dengan dosa, terus mereka menjadikannya buat para tagut murtad dan buat kaum musyrikin wal mulhidin, dengannya mereka membentengi dari kekafirannya yang nyata dan kemusyrikannya yang jelas, serta dengannya mereka mendorong pada leher orang yang mengafirkannya dari kalangan muwahhidin!![2]

Catatan kaki:

[1] Di antara orang-orang termasyhur yang mendebat mereka dari kalangan para sahabat adalah ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, dan Abu Bakrah radliyallahu ‘anhum, dan dari kalangan tabi’in adalah Thawus, Abi Mijlaz, dan 'Umar bin ‘Abdul ‘Aziz.

[2] Dan untuk menambah rincian dalam hal itu, silahkan rujuk kitab kita Imtaunnazhr fi Kasyfi Syubuhati Murji'atil ‘Ashri dan Tabshir Al 'Uqala bi Talbisati Ahlit Tajahhum wal Irja'.

Sumber: http://nii-news-document.blogspot.com/2012/12/khawarij-dan-baraah-kami-dari-aqidah.html?m=1

Penulis: ‘Ashim Ibn Muhammad Al Burqawi
Penerjemah: Abu Sulaiman Al Arkhabili