Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Kiat-Kiat Menuntut Ilmu

Oleh Nashir Ibn Hamad Al Fahad

Sebagian dari ikhwah yang aku muliakan telah ber-husnuzhan kepadaku sehingga mereka memintaku untuk menuliskan untuk mereka sebuah metode dalam menuntut ilmu, maka aku menuliskan yang berkaitan dengannya secara ringkas, semoga Allah menjadikannya bermanfaat.

Kiat-kiat dalam menuntut ilmu.

Pertama: Ikhlas.
Sudah seharusnya bagi seorang thalib (penuntu ilmu) untuk mengikhlaskan niat, ini adalah perkara yang telah makruf, hanya saja jalan yang harus ditempuh cukup panjang, sedangkan rintangan tersebar di mana-mana, dan hal-hal yang dapat merusak niat juga begitu banyak dan samar. Maka wajib bagi seorang thalib untuk terus memperhatikan niatnya karena ia begitu cepat berubah-ubah.

Kedua : Tazkiyyatun nafs (menyucikan jiwa).
Yaitu dengan merutinkan diri dalam melakukan ketaatan, memperbanyak istigfar, selalu memperbarui tobat, dan menghindari maksiat-maksiat karena kemaksiatan termasuk penghalangan terbesar dalam menuntut ilmu. Terkadang seorang thalib terhalangi untuk mendapatkan ilmu, hilang hafalannya dan sulit baginya untuk memahami disebabkan dampak buruk dari maksiat.

Ketiga: Memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
Bersandar kepadanya, berdoa, merendah diri, tunduk di hadapan-Nya, meminta hidayah dan bimbingan darinya, merutinkan membaca, “Laa haula wa laa quwwata illa billah,” dan memperbanyak membaca doa-doa yang ma'tsurah (yang disebutkan dalam Al Qur'an dan As Sunnah) yang berkaitan dengan bab ini, seperti, “Rabbi zidni ilma,” “Subhanaka laa ilma lanaa illa ma 'allamtana innaka Antal 'Alimul Hakim,” “Allahumma 'allimni ma yanfa'uni wanfa'ni bima allamtani,” “Allahumma faqqihni fid dini 'allimni ta'wil,” “Allahumma ya mu'allima adma wa Ibrahima 'allimni wa ya mufahhima Sulaimana fahhimni.”

Keempat: Mengamalkannya.
Wajib bagi seorang thalib untuk beramal dengan ilmunya. Karena tujuan menuntut ilmu adalah untuk diamalkan, bukan untuk berbangga-bangga di hadapan manusia. Maka wajib baginya untuk bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan dan memperbanyak amalan sunah, seperti qiyamul lail, shiyyam, sedekah, membaca Al Qur'an, berdzikir dan semisalnya.

Dalam hal ini saya ingin memberi peringatan terhadap dua hal:

1. Bahwasannya mencukupkan diri hanya dengan tenggelam di dalam membaca kitab-kitab, menghafal matan-matan, menyusun tulisan ilmiah dan membahasnya dapat mengeraskan hati dan menjadikan seorang thalib merasa berat untuk melaksanakan ibadah. Maka hendaknya ia memberi jeda/senggang waktu sesaat untuk melakukan amalan-amalan sunah di tengah masa-masa belajarnya. Kemudian ia hendaknya banyak menelaah sirah (sejarah) orang-orang saleh karena itu dapat melembutkan hati dan menambah semangat dalam beramal, dengan izin Allah.

2. Dalam hal ini terdapat syubhat yang selalu dibawakan oleh para pemalas dari kalangan thalib yang tenggelam dengan ilmunya dan berat dalam melakukan ibadah, yaitu bahwasannya menuntut ilmu lebih utama daripada ibadah-ibadah sunah. Syubhat ini tidaklah pada tempatnya. Asalnya hal ini tidaklah boleh dibenturkan antara mendahulukan ini dengan ini. Perhatikanlah para ulama besar dari kalangan sahabat, tabiin, dan setelahnya, kalian akan mendapati bahwa mereka terkenal dengan ibadahnya. Sesungguhnya menuntut ilmu didahulukan daripada ibadah hanya apabila di dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk menggabungkannya dan ini tidaklah terjadi, kecuali pada kondisi yang jarang terjadi.

Kelima : Ilmu tidaklah diraih dengan bersantai￾santai.
Sudah seharusnya dalam menuntut ilmu itu seseorang merasakan keletihan, keseriusan, dan kesungguhan, terutama di awal-awal menuntut ilmu. Disebutkan bahwa, “Kemahiran itu 1/10-nya adalah dari kecerdasan dan 9/10-nya adalah dari kerja keras.” Maka barangsiapa yang mengeluh disebabkan lemahnya hapalan atau pun pemahaman, ia dapat menggantinya dengan kuatnya tekad, meninggalkan kemalasan, dan meningkatkan kesungguhan. Barang siapa yang kuat keinginannya, lurus tekadnya, dan bersungguh-sungguh dalam urusannya, maka ia akan menyusul rombongan, in syaa Allah.

Keenam: Sesungguhnya ilmu terlalu luas untuk dikuasai keseluruhannya, maka pilihlah dari setiap ilmu apa yang paling baik untukmu.
Hendaknya seorang thalib, terutama bagi pemula￾tidak terlalu menyibukan diri dalam mendalami ilmu-ilmu yang bersifat sampingan, seperti permasalahan permasalahan asing, ilmu-ilmu yang syadz, atau yang semisal. Karena ia tidaklah memiliki nilai selain untuk intermezzo dan membuat takjub teman teman sekitar. Akan tetapi hendaklah ia giat dalam mengokohkan pondasi-pondasi ilmu dan mendalami permasalahan-permasalahan yang terpenting.

Ketujuh: Di antara tanda keberkahan ilmu ialah bersikap inshaf (bijak) dan meninggalkan sikap ta’ashub (fanatik buta).
Hendaknya seorang thalib mencari kebenaran dengan dalilnya, dari Al Qur'an dan As Sunnah tanpa fanatik buta kepada mazhab, ulama, atau syekh tertentu. Karena setiap orang perkataannya bisa diambil dan bisa ditinggalkan, kecuali Nabi shalallahu 'alaihi wa salam.

Kedelapan: Barang siapa yang mengabaikan usul (pondasi), maka ia tidak akan sampai kepada tujuan.

Adapun usul ilmu itu ada dua bagian:
1. Usul dari segala ilmu, yaitu tauhid. Seorang thalib tidaklah mendapat uzur apabila bodoh terhadap perkara-perkara tauhid.
2. Usul dari fan (bidang-bidang) ilmu yang dipelajari oleh seorang thalib (yang dimaksud ushul di sini ialah usul secara makna umum, bukan khusus) dan usul dari setiap fan ilmu ia adalah bab-bab  terpentingnya, pembagian, pengertian, dan masalah-masalahnya.

Kesembilan: Tidaklah disebut ilmu, kecuali apa yang tersimpan di dalam dada.
Wajib bagi seorang thalib untuk perhatian dalam menghafal matan-matan, dalil-dalil, aqwal (perkataan-perkataan) ulama, dan pokok-pokok permasalahan.

Tingkatan dalam menghafal ada 4 (empat):
1. Menghafal setiap matan sesuai dengan lafalnya, ini adalah asalnya. Tidak ada yang bisa menggantikannya, kecuali jika seorang thalib mendapatkan kesulitan untuk itu.
2. Lebih menfokuskan makna-makna dari setiap lafal. Maka thalib dapat menghafal matan dengan menyeluruh baik itu secara lafal atau pun hanya berupa menghafal dalam segi makna-maknanya. Jangan hanya terikat dengan lafal dari penulis, karena itu bukan termasuk pada ranah ibadah.
3. Memilih poin-poin pentingnya saja untuk dihafalkan. Apabila sebuah matan terlalu panjang sehingga sulit bagi seorang thalib untuk menghafalkannya secara keseluruhan, maka ia boleh meringkasnya sesuai kemampuan dan memilih pasal-pasal dan persoalan terpentingnya, yakni apabila itu
berbentuk susunan buku. Atau dengan menghafal bait-bait terpentingnya saja apabila itu berbentuk manzhumah. Hendaknya ia meminta bantuan untuk memilihnya kepada orang yang berpengalaman dari ahli ilmu, lalu ia menghafalkan apa yang telah ia pilih.
4. Memilihnya lalu menghafalkannya sesuai makna, baik itu sesuai dengan lafalnya atau pun hanya secara maknanya saja.

Kesepuluh: Ilmu adalah “buruan” dan tulisan (catatan) adalah “pengikatnya”.
Janganlah seorang thalib senantiasa mengandalkan ingatannya saja karena hafalan terkadang bisa ‘berkhianat’. Apa yang dihafalkan bisa pergi, adapun yang tertulis tetap bertahan. Maka hendaknya ia juga bersemangat untuk mencatat, meringkas faedah-faedah, dan menyusun ulang setiap pembahasan.

Kesebelas: Barang siapa yang mencari ilmu secara sekaligus, maka ia juga akan kehilangannya secara sekaligus.
Hendaknya bagi seorang thalib untuk bertahap dalam mencari ilmu, sedikit demi sedikit, dan tidak berpindah dari suatu persoalan kepada persoalan lainnya sebelum ia mutqin (kuat, kokoh) di dalamnya. Terlalu penuhnya ilmu di pikiran menyebabkannya lebih mudah hilang.

Kedua belas: Menggabungkan antara dua fikih.
Wajib bagi seorang thalib setelah memahami ilmu syar’i agar ia juga memahami fiqh waqi’ (realita) agar ia dapat menerapkan setiap kaidah syar’i pada tempatnya dan mengetahui hukumnya. Hendaknya ia menelaah mazhab-mazhab kontemporer dan mempelajari nawazil dari fikihnya. Kemudian menelaah kitab-kitab mausu’at (ensiklopedi) masa kini dan mengamati kejadian-kejadian terbaru. Sehingga ia akan bisa bersikap adil dalam hal ini tanpa melampaui batasnya.

Ketiga belas: Barang siapa yang tergesa-gesa untuk tampil, maka ia akan terluput dari banyak ilmu.
Maka hendaknya seorang thalib untuk bersemangat dalam memantapkan ilmunya sebelum turun untuk mengajar dan hendaknya ia tetap melanjutkan pembelajarannya meskipun ia telah duduk untuk mengajar. Sebagaimana perkataan Imam Ahmad, “Dari tempat tinta hingga ke kubur.”

Keempat belas: Adab penuntut ilmu.
Wajib bagi seorang thalib untuk menghiasi dirinya dengan adab-adab penuntut ilmu terhadap dirinya sendiri, guru-gurunya, teman-teman, murid-murid, dan selainnya. Para ulama telah menyusun tulisan yang banyak mengenai tema ini, baik itu ulama terdahulu ataupun masa kini, yang baik untuk merujuk kepadanya.

Sumber: Asy-Syaikh Nashir Ibnu Hamad al-Fahd, Metode Praktis Dalam Menuntut Ilmu, (Cas Iman: 1440 H, Penerjemah: Abu Salik), hlm. 6-26.

Penulis: Nashir Ibn Hamd Al Fahd
Penerjemah: Abu Salik Ath Thahawi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari