Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Klaim Palsu Ijmak Tidak Ada Udzur bil Jahl

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Wahai saudara-saudaraku, ketahuilah bahwa Abu Maryam Al Mukhlif berkoar-koar bahwa ia memahami Alquran dan sunah dengan pemahaman yang baik, bahwa ia mengambil pelajaran dari keduanya secara langsung. Dalam perkataannya, ia sering menyampaikan “bela sungkawa” terhadap para ulama yang menurutnya jauh dari Alquran dan sunah serta berargumentasi dengan pendapat tokoh-tokoh, maka janganlah ucapan-ucapan Abu Maryam Al-Mukhlif itu mengguncangkan kalian karena ia hanyalah klaim-klaim yang setiap orang pun bisa melakukannya. Sesungguhnya medan kepeloporan adalah dalam melakukan kajian yang cermat dalam ilmu, nampak bagusnya pemahaman dalam ilmu tersebut menurut ukuran para ulama, banyaknya kesesuaian dengan kebenaran dan berlaku lurus secara umum.

Padahal jika kalian mencermati niscaya kalian akan mendapati fakta bahwa dalam banyak perkara tersebut yang Abu Maryam Al Mukhlif tersohor dengannya dan tersesat di dalamnya, sebenarnya Abu Maryam Al Mukhlif berada di antara dua keadaan berikut ini.

1. Ia taklid kepada orang lain dan mengikuti alur pendapat mereka tanpa melakukan tahqiq (penelitian yang cermat) dan banyak tamyiz (memilah yang benar dari yang salah),

2. atau ia mengklaim sebuah pemahaman tersendiri dalam memahami Alquran dan sunah. Misalnya ia mengklaim perbedaan antara kekafiran dan kesyirikan, berargumen dengan ayat, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni jika ia disekutukan dengan selain-Nya,” untuk menyatakan tiadanya udzur bil jahl dan contoh-tontoh lainnya yang dengan izin Allah Ta’ala akan kami patahkan pada tempatnya yang tepat.

Jika diteliti dengan cermat, Abu Maryam Al Mukhlif adalah orang yang sok berlagak ulama lagi tertipu oleh kapasitas ilmunya sendiri disebabkan oleh pemahamannya yang buruk dan boleh jadi karena rasa ujub (membangga-banggakan diri sendiri) dan ghurur (tertipu oleh kemampuannya sendiri). Ia menyangka telah menguasai sepenuhnya pemahaman dan pengetahuan atas berbagai hakikat kebenaran!

Adapun mengenai kedustaan, sesungguhnya Abu Maryam Al Mukhlif telah sering berdusta untuk menolong kepercayaannya yang sesat dan diada-adakan tersebut. Ia berdusta saat mengklaim bahwa para ulama telah bersepakat atas tiadanya udzur bil jahl dalam perkara ashlud din atau seperti yang ia katakan, “Dalam perkara syirik akbar.” Padahal sebenarnya tidak ada ijmak yang sahih menurut penelitian yang cermat. Mari kita beri waktu satu tahun kepada Abu Maryam Al Mukhlif jika ia mampu untuk mendatangkan ijmak yang sharih (tegas) lagi selamat dari kecacatan dalam perkara ini yang membuat seluruh ulama harus menerima ijmak (yang sahih, sharih, dan selamat dari cacat) tersebut!

Hendaklah orang jeli memperhatikan, seandainya perkara ini sudah mencapai taraf qath’i dan ijmak serta ma’lum (dikenal luas oleh seluruh kaum awam umat Islam dan para ulamanya sebagai bagian dari ajaran Islam), kenapa dari hari ke hari perpustakaan Islam senantiasa dibanjiri oleh buku-buku, bahasan-bahasan, dan kajian-kajian dalam masalah ini? Apa pula artinya perbedaan pendapat dalam perkara ini di antara para ulama senior yang dikenal luas dengan ketekunannya dalam melakukan penelitian dan kajian?

Justru, sekiranya ada yang mengatakan bahwa ijmak telah tercapai atas pendapat yang sebaliknya (berlakunya udzur bil jahl dalam syirik akbar), niscaya perkataan itulah yang lebih dekat kepada kebenaran. Kami sendiri tidak berani menyebutkan ijmak dalam perkara ini!

Imam Ibnu Hazm Azh Zhahiri (wafat tahun 456 H) termasuk ulama yang pertama kali membicarakan perkara ini dengan rincian dan penelitian yang cermat dalam bukunya, Al Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal. Setelah menguraikan panjang lebar perkara ini dan menyebutkan sejumlah dalil, beliau mengatakan, “Abu Muhammad berkata: Bukti nyata yang dharuri (pasti) yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya adalah sesungguhnya seluruh umat Islam telah berijmak tanpa ada seorang pun di antara mereka yang menyelisihinya, bahwasanya setiap orang yang mengganti satu ayat dari Alquran secara sengaja sementara ia mengetahui bahwa bunyi ayat tersebut di dalam musaf berbeda dengan bunyi ayat yang ia bawakan dan ia menghilangkan satu kata (dari ayat tersebut) secara sengaja atau ia menambahi satu kata (dari ayat tersebut) secara sengaja, maka orang tersebut telah kafir berdasar ijmak seluruh umat Islam. Lalu, seseorang keliru dalam membaca sebuah ayat, ia menambah sebuah kata atau mengurangi sebuah kata dalam ayat tersebut atau mengganti kata dalam ayat tersebut karena ia tidak tahu (bodoh) dan mengira bahwa ia sudah benar (dalam membaca ayat tersebut). Ia merasa besar dan mendebat (mempertahankan bacaannya) sebelum jelas baginya kebenaran. Meski demikian, ia tidak kafir menurut seorang pun dari kalangan umat Islam, tidak pula fasik, dan tidak pula berdosa. Kemudian jika ia kembali melihat musaf atau ia diberitahu oleh seorang qari’ (penghafal Alquran) yang beritanya menjadikan hujjah tegak, namun ia tetap bersikeras mempertahankan kekeliruannya, maka ia menjadi orang kafir tak diragukan lagi menurut seluruh umat Islam dan inilah hukum yang berlaku dalam seluruh (persoalan) agama.”

Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya akan menjawab (pernyataan ijmak yang disebutkan oleh Imam Ibnu Hazm Azh Zhahiri ini) dengan mengatakan bahwa hal itu bukan dalam perkara syirik. Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya lantas akan menyebutkan landasan rusak mereka yang telah kami isyaratkan di atas, yaitu mereka membeda-bedakan antara kekafiran dan kesyirikan dan bahwa kesyirikan tidak berlaku udzur bil jahl sama sekali, berbeda halnya dengan kekufuran.

Jawaban Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya ini adalah jawaban yang rusak sebab Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri tidak membeda-bedakan antara kekafiran dan kesyirikan. Menurut beliau, semua perkara tersebut sama. Seandainya beliau berpendapat dua hal tersebut berbeda tentulah beliau akan menyebutkan perbedaannya. Justu bagian akhir perkataan beliau secara tegas menunjukkan hal itu berlaku umum (dalam semua perkara agama) dan tidak ada perbedaan sebab beliau mengatakan, “Dan inilah hukum yang berlaku dalam seluruh (persoalan) agama.”

Maka jelaslah bahwa ungkapan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh-Zhahiri tersebut mematahkan punggung (hujjah) Abu Maryam Al Mukhlif dan para pengikutnya. Sebab ungkapan tersebut seperti ungkapan yang tegas mengenai riwayat ijmak, sementara penjelasan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri termasuk perkataan ulama yang paling lama yang bisa ditemukan dalam membahas masalah ini secara cermat, terinci, dan teliti.

Juga karena Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri tidak membeda-bedakan antara kekafiran dan kesyirikan, tidak seperti klaim Abu Maryam Al Mukhlif. Justru ungkapan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri secara tegas tidak membeda-bedakan keduanya.

Bahkan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri telah menulis sebuah pembahasan khusus dalam bukunya, Al Fishal fil Milal wal Ahwa’ wan Nihal untuk menetapkan bahwa kekufuran dan kesyirikan itu satu perkara yang sama dalam agama, maksudnya dalam makna syar’i. Beliau membantah orang yang membeda-bedakan antara keduanya, maka pembahasan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri tersebut membantah Abu Maryam Al Mukhlif yang mengklaim ijmak dalam membeda-bedakan antara keduanya!

Insyaa Allah, kita akan kembali menjelaskan perkara ini dan mengomentari penjelasan Imam Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri tersebut dalam kesempatan yang lain jika Allah memudahkannya kepada kita dengan karunia dan nikmat-Nya. Dalam kesempatan tersebut saya akan mengomentari sebagian perkataan Abu Maryam Al Mukhlif dan meruntuhkan pokok-pokok mazhabnya yang menyimpang. Saya juga akan menjelaskan kepalsuan cara-cara berargumentasi Abu Maryam Al Mukhlif dan besarnya sikap berlebih-lebihan serta pemalsuan yang ia lakukan. Hanya Allah semata Yang melimpahkan taufik.

Abu Maryam Al Mukhlif telah berdusta dengan menyatakan bahwa para ulama telah berijmak dalam membeda-bedakan antara kekafiran dan kesyirikan, menurut cara yang ia jelaskan kepada manusia. Perkataannya dalam perkara tersebut telah tertolak dan batil, seperti baru saja saya jelaskan di atas, dan penjelasan secara panjang lebar mengenai hal itu bisa dilihat pada tempat yang telah saya isyaratkan tersebut, insyaa Allah.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar