Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Mazhab Kami Ahlus Sunnah wal Jama'ah

Oleh Abdullah Ibn Muhammad At Tamimi

Mazhab kami dalam ushuluddin adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan cara pemahaman kami adalah mengikuti cara ulama salaf, sedangkan dalam hal masalah furu’ kami cenderung mengikuti mazhab Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Kami tidak pernah mengingkari seseorang bermazhab dengan salah satu daripada mazhab yang empat dan kami tidak mempersetujui seseorang bermazhab kepada mazhab yang luar dari mazhab empat, seperti mazhab Rafidhah, Za'idiyyah, Imamiyyah, dan lain-lain lagi. Kami tidak membenarkan mereka mengikuti mazhab-mazhab yang batil, malah kami memaksa mereka supaya bertaklid kepada salah satu dari mazhab empat tersebut. Kami tidak pernah sama sekali mengaku bahwa kami sudah sampai ke tingkat mujtahid mutlak, juga tidak seorang pun di antara para pengikut kami yang berani mendakwakan dirinya dengan demikian. Hanya ada beberapa masalah yang kalau kami lihat di sana ada nas yang jelas, baik dari Alquran maupun sunah, dan setelah kami periksa dengan teliti tidak ada yang me-nasakh-kannya atau yang men-taskhsis-kannya atau yang menentangnya, lebih kuat daripadanya, serta dipegangi pula oleh salah seorang imam empat, maka kami mengambilnya dan kami meninggalkan mazhab yang kami anut. Seperti dalam masalah warisan yang menyangkut dengan kakek dan saudara lelaki. Dalam hal ini kami berpendirian mendahulukan kakek, meskipun menyalahi mazhab kami.

Adapun yang mereka fitnah kepada kami, sudah tentu dengan maksud untuk menutup-nutupi dan menghalang-halangi yang hak, dan mereka membohongi orang banyak dengan berkata bahwa kami suka menafsirkan Alquran dengan selera kami tanpa mengindahkan kitab-kitab tafsirnya dan kami tidak percaya kepada ulama, menghina Nabi kita Muhammad shalallahu 'alaihi was salam dan dengan perkataan bahwa jasad Nabi shalallahu 'alaihi was salam itu buruk di dalam kuburnya, dan bahwa tongkat kami ini lebih bermanfaat daripada Nabi, dan Nabi itu tidak mempunyai syafaat, dan ziarah kepada kubur Nabi itu tidak sunat, dan Nabi tidak mengerti makna, "Laa ilaha illallah," sehingga perlu diturunkan kepadanya ayat yang berbunyi, “fa’lam annahu laa ilaha illallah," dan ayat ini diturunkan di Madinah. Dituduhnya kami lagi, bahwa kami tidak percaya kepada pendapat para ulama. Kami telah menghancurkan kitab-kitab karangan para ulama mazhab karena di dalamnya bercampur antara yang hak dan batil. Malah kami dianggap Mujassimah  serta kami mengafirkan orang-orang yang hidup sesudah abad keenam, kecuali yang mengikuti kami. Selain itu, kami juga dituduh tidak mau menerima baiat seseorang sehingga kami menetapkan atasnya bahwa dia itu bukan musyrik, begitu juga ibu-bapaknya juga bukan musyrik. Dikatakan lagi bahwa kami telah melarang manusia membaca selawat ke atas Nabi shalallahu 'alaihi was salam dan mengharamkan berziarah ke kubur-kubur. Kemudian dikatakannya pula, jika seseorang yang mengikuti ajaran agama sesuai dengan kami, maka orang itu akan diberikan kelonggaran dan kebebasan dari segala beban dan tanggungan atau hutang sekalipun. Kami dituduh tidak ingin mengakui kebenaran para ahli bait radhiallahu 'anhum dan kami memaksa menikahkan seseorang yang tidak kufu serta memaksa seseorang yang tua umurnya dan ia mempunyai istri yang muda untuk diceraikannya karena akan dinikahkan dengan pemuda lainnya untuk mengangkat derajat golongan kami. Maka semua tuduhan yang diada-adakan dalam hal ini sungguh kami tidak mengerti apa yang harus kami katakan sebagai jawaban, kecuali yang dapat kami katakan hanya, "Subhanaka - Mahasuci Engkau ya Allah," ini adalah kebohongan yang besar. Oleh karena itu, maka barang siapa menuduh kami dengan hal-hal yang tersebut di atas tadi, mereka telah melakukan kebohongan yang amat besar terhadap kami. Barang siapa mengaku dan menyaksikan bahwa apa yang dituduhkan tadi adalah perbuatan kami, maka ketahuilah bahwa kesemuanya itu adalah suatu penghinaan terhadap kami yang dicipta oleh musuh-musuh agama atau pun teman-teman setan dari menjauhkan manusia untuk mengikuti ajaran sebersih-bersih tauhid kepada Allah dan keikhlasan beribadah kepada-Nya.

Kami ber-i’tiqad bahwa seseorang yang mengerjakan dosa besar, seperti melakukan pembunuhan terhadap seseorang muslim tanpa alasan yang wajar, begitu juga seperti berzina, riba, dan minum khamr, meskipun berulang-ulang, maka orang itu hukumnya tidaklah keluar dari Islam dan tidak kekal dalam neraka, apabila ia tetap bertauhid kepada Allah dalam semua ibadahnya.

Apapun yang kami yakini terhadap martabat Muhammad shalallahu 'alaihi was salam bahwa martabat dia itu adalah setinggi-tinggi martabat makhluk secara mutlak dan Dia itu hidup di dalam kuburnya dalam keadaan yang lebih daripada kehidupan para syuhada yang telah digariskan dalam Alquran karena Dia itu lebih utama dari mereka dengan tidak diragukan lagi, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi was salam mendengar salam orang yang mengucapkan kepadanya dan adalah sunah berziarah kepada kuburnya, kecuali jika semata-mata dari jauh hanya datang untuk berziarah ke makamnya, namun sunah juga berziarah ke masjid Nabi dan melakukan salat di dalamnya, kemudian berziarah ke makamnya. Barang siapa yang menggunakan waktunya yang berharga untuk membaca selawat ke atas Nabi, selawat yang datang daripada dia sendiri, maka ia akan mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.

(Shinayyatul Insan, 474-475)

Penulis: ‘Abdullah Ibn Muhammad An Najdi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari