Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Menjawab Syubhat: Selama Penguasa Masih Mengerjakan Salat

Oleh Turki Ibn Mubarak Al Binali

Pertanyaan:
Kami sering kali mendengar perkataan dari ulama-ulama pro pemerintah bahwasanya salatnya para penguasa ini bersama kita menggugurkan kewajiban melawan para penguasa ini dan mereka dalam hal itu bersandar kepada hadis Nabi  ﷺ .

Jawaban:
Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwasanya Nabi ﷺ bersabda,
خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُم ْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ قَالُوا قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ عِنْدَ ذَلِكَ قَالَ لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ 
"Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian dan kalian mendoakan kebaikan bagi mereka sebagaimana mereka pun mendoakan kebaikan bagi kalian; dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian dan juga kalian melaknat mereka sebagaimana merekapun melaknat kalian. Kami (para sahabat) berkata: Ya Rasulallah apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka ketika keadaannya seperti itu? Rasulullah menjawab: Tidak boleh selama mereka masih menegakan salat."
(Shahih Muslim no. 185)

Makna dari "Selama mereka menegakan shalat bersama kalian," di sini  adalah "selama mereka menegakan din di tengah-tengah kalian," sebagaimana dalam hadis,
إن هذا الأمر في قريش لا يعاديهم أحد إلا كبه الله في النار على وجهه ما أقاموا الدين  (أخرجه البخاري)
"Sesungguhnya urusan (kepemimpinan) ini ada pada Quraisy, tidak ada yang merebutnya dari mereka, kecuali Allah campakan ia ke dalam nereka di atas wajahnya selama mereka tetap menegakkan din."
(Diriwayatkan oleh Al Bukhari)

Serupa dengan hadis,
اسمعوا  وأطيعوا وان أمر عليكم  عبد حبشي كأن رأسه زبيبة ما أقام فيكم كتاب الله و دين الإسلام  (رواه احمد)
"Dengarlah dan taatilah walaupun kalian dipimpin oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah yang seakan-akan kepalanya adalah kurma kering selama ia menegakan kitabullah dan din Islam di tengah kalian."
(Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Nadhrah)

Berkata Al Haitsami tentang hadis ini dalam Al Mujma'-nya (3/269), "Perawi-perawinya adalah perawi yang sahih dan sunah menjelaskan satu sama lain."

Maka apakah penguasa-penguasa ini menegakan din di tengah-tengah kita dan menegakan hukumnya atau justru mereka menegakkan di tengah-tengah kita demokrasi dan yang semisalnya?

Lafal "salat" dalam hadis ini adalah sebuah bentuk ungkapan yang masuk kedalam bab "اطلاق الجزء و ارادة الكل" (mengucapkan sebagian dengan maksud seluruhnya) seperti misalnya firman Allah Ta'ala,
قُمِ اللَيلَِ إِلاّ قَلِيلاً ( المزمل : 2)
"Berdirilah pada waktu malam, kecuali sedikit (darinya)."
(QS Al Muzammil: 2)

Yang dimaksud berdiri dalam ayat ini adalah salat, sementara dari segi bahasa kata "berdiri" tidak bisa menunjukan makna "salat", tetapi berdiri adalah bagian dari salat. Poinnya adalah berdiri (qiyam) adalah bagian terpanjang dalam salat sebagaimana salat adalah bagian terpenting dan paling nampak dalam Islam, karena itu Rasulullah bersabda dalam hadis tersebut, "Selama mereka menegakkan salat di tengah kalian."

Rasulullah bersabda,
الظهر يركب لنفقته
( رواه البخري)
"Punggung (hewan yang digadaikan) boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya."
(Diriwayatkan oleh Al Bukhari)

Terdapat penjelasan dalam Syarah Shahih Bukhari, "Adz dzuhru (punggung) maknanya adalah hewan."

Hal ini masuk ke dalam kaidah "Mengucapkan sebagian dengan maksud semuanya." Banyak sekali contoh-contoh yang seperti ini.

Kemudian, andaikan kita menerima hadis "Selama mereka menegakan salat," sesuai dengan lahirnya, maka perlu diketahui bahwasanya beliau  ﷺ tidak membatasi untuk keluar dari ketaatan kepada pemimpin hanya dengan hal itu, bahkan beliau menyebutkan hal-hal yang semisal yang membolehkan keluar dari ketaatan kepada pemimpin dan meninggalkan salat adalah salah satu perbuatan mukaffir yang merupakan bagian dari perbuatan-perbuatan yang bisa membuat seorang menjadi kafir.

Berkata Syaikh 'Abdul Qadir bin 'Abdul 'Aziz fakallahu asrah wa ilal haqqu raddahu, "Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada kontradiksi antara perkataan Nabi  ﷺ: Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, dengan perkataan beliau: Jangan (perangi mereka) selama mereka masih salat. Dalam hadis yang  pertama beliau melarang melawan dan memerangi para pemimpin, kecuali jika mereka kafir; sementara dalam hadis yang kedua beliau melarang hal itu, kecuali jika mereka meninggalkan salat. Hal itu tidak bertentangan karena sesungguhya meninggalkan salat adalah kekufuran menurut ijmak para sahabat sebagaimana telah lalu penjelasannya, maka meninggalkan salat adalah salah satu sebab kekufuran, maka posisi nas ini disandingkan dengan sabda beliau   ﷺ: Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, adalah berada pada posisi: Nas khusus setelah 'aam (umum) dengan fungsi sebagai penekanan pada urgensi dan peringatan terhadap hal yang disebutkan secara khusus. Hal ini serupa dengan firman Allah Ta'ala,
مَن كَانَ عَدُوًّا لِّلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِّلْكَافِرِينَ (98)
"Barang siapa yang menjadi musuh bagi Allah, malaikat-malaikat-Nya, Rasul-Rasul-Nya, serta JIbril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir."
(QS Al Baqarah: 98)

Jibril dan Mikail adalah termasuk golongan para malaikat, akan tetapi dalam nas ini Allah menyenderikan penyebutannya sebagai bentuk peringatan, begitu meninggalkan salat adalah salah satu kekufuran, kemudian hal itu disebut tersendiri sebagai penekanan terhadap urgensinya. Hal ini juga jika disandingkan dengan dalil-dalil yang lain akan menujukkan kufurnya orang yang meninggalkan salat karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ melarang untuk keluar dari ketaatan kepada para pemimpin, kecuali jika mereka telah kafir, dan beliau menbolehkan untuk keluar dari ketaatan kepada mereka dengan sebab mereka meninggalkan salat, maka dari sini dapat diketahui bahwasanya meninggalkan salat adalah kekafiran yang menjadi alasan bolehnya keluar dari ketaatan kepada mereka, adapun jika mereka kafir dengan sebab yang lain selain karena meninggalkan salat, maka keluar dari ketaatan kepada mereka adalah wajib juga dengan landasan keumuman hadis yang diriwayatkan dari U'badah (hadis tentang  (كفراً بواحاً))."
(Al Jami', 2/662)

Ini adalah pemahaman yang lurus, adapun jika kita memahami hadis ini dengan pemahaman Murji'ah modern yang menyimpang lagi jauh dari kebenaran, maka pemahaman yang mereka katakan adalah, "Selama mereka membiarkan kita salat," maka konsekuensi dari ucapan mereka adalah tidak bolehnya keluar dari ketaatan semua penguasa yang ada di atas muka bumi ini karena (sepengetahuan saya) tidak ada di antara mereka yang melarang kita mengerjakan salat.

Sumber: Saluran Telegram, Al Fatawa lil 'Ulamal Mutakhkhirin, dengan penyesuaian.

Penulis: Turki Ibn Mubarak Al Bin'ali
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari