Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Menolak Lamaran Seseorang karena Sakit

Oleh Turki Ibn Mubarak Al Binali

Pertanyaan:
Ada pertanyaan lain dari penelpon, seorang akhwat yang telah dikhitbah (dilamar) oleh ikhwan muhajir dan setelah dikhitbah akhwat ini mengetahui bahwa dirinya terkena penyakit kanker, maka akhwat ini berkata kepada ikhwan yang melamarnya, "Saya tidak mau menikah denganmu", dan akhwat ini tidak memberi tau penyakitnya, maka ikhwan ini marah dan ia mulai memperbincangkannya bahwa ia telah berdusta, maka apakah ia harus memberitahu penyakitnya kepada ikhwan ini atau cukup hanya berkata kepadanya, "saya tidak mau menikah
denganmu,”?

Jawaban:
Pertama-pertama, kami memohon kepada Allah yang Mahaagung, Rabb 'Arsy yang agung agar menyembuhkan akhwat ini dan seluruh kaum muslimin yang sedang sakit.

Kedua, kami berpendapat bahwa pada dasarnya hendaknya ia memberitahu penyakit yang dialaminya, jika ikhwan ini mau menerimanya, maka ia bisa menyempurnakan akadnya, menikah dengannya, dan bersabar menerimanya, dan jika ikhwan ini tidak menerimanya, maka ia bisa mengundurkan diri dan tidak melanjutkannya, dan ini lebih selamat untuk akhwat dan ikhwan ini.

Sungguh telah diriwayatkan dalam sahih Bukhari Muslim dari Shafiyyah binti Huyyai radhiallahu 'anha wa 'ardhaha bahwa tatkala beliau sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada suatu malam, di jalan bertemu dengan dua laki-laki Anshar, tatkala keduanya melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka keduanya mempercepat langkahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata, “Hai, pelan-pelan sajalah kalian. Ini adalah Shafiyyah binti Huyyai.” Keduanya menjawab, “Subhanallah, ya Rasulullah!”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Aku khawatir kalau-kalau setan membisikkan sesuatu yang jahat ke dalam hati kalian.” Dalam riwayat lain disebutkan, "Membisikkan keburukan."

Imam Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Maka beliau segera memberitahukan kepada keduanya keadaan yang sebenarnya demi menutup jalan menuju kebinasaan serta memberi pelajaran bagi orang setelahnya jika mengalami hal yang serupa seperti yang dikatakan oleh Imam Syafi'i rahimahullahu Ta’ala.”

Sumber: As-Syaykh al-Mujahid Turkiy bin Mubarok al-Bin’aliy rohimahulloh, Fatawa on The Air Edisi Ke-7, (Penyebar Berita: 1441 H), hlm. 13-15.

Penulis: Turki Ibn Mubarak Al Bin'ali
Penerjemah: Hubbut Tauhid
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al ‘Umari