Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Nasihat Syaikh Abul Walid Al Maqdisi dari Palestina

Oleh Hisyam Ibn Ali As Suaidani


Saya menasehatkan kepada diri saya dan ikhwan-ikhwan saya.

Pertama, untuk menuntut ilmu syar'i dengan ikhlas dan shidiq, dan memulai dari ilmu ilmu yang fardhu 'ain, serta hendaknya cita cita dalam menuntut ilmu adalah tinggi setinggi puncak gunung. Ketahuilah bahwa ilmu tidak dipelajari untuk dapat duduk di barisan depan dalam majelis majelis, tidak pula untuk mendebat orang orang bodoh, serta tidak pula untuk menyaingi para ulama. Akan tetapi ia dipelajari untuk diamalkan dan didakwahkan. Ketahuilah bahwa perang pembatas antara islam dan syirik, antara iman dan kekafiran tidak mungkin dapat dipimpin oleh orang orang bodoh.

Kedua, janganlah kalian berta'shshub (fanatik) kepada seorang ulama, atau penuntut ilmu atau sebuah jama'ah. Sesungguhnya para tokoh itu dikenal karena melalui al haq (kebenaran), sedangkan al haq tidak dikenal (diketahui) melalui para tokoh. Kalian harus memihak kepada jama'ah yang benar meskipun jama'ah tersebut kecil secara kuantitas dan perbekalan. Kalian harus adil dan inshof karena keduannya adalah keadaan orang orang yang mulia, sedangkan orang orang mulia pada zaman ini adalah sedikit.

Ketiga, berperilakulah dengan akhlaq akhlaq yang baik dan tinggalkanlah akhlaq akhlaq yang jelek. Jauhilah hal hal yang hina dan obatilah hati dari penyakit sombong, dengki, ghibah, namimah (adu domba), dusta, mencaci maki, menjelekkan orang lain tanpa dasar kebenaran, dan bersikap fujur ketika bersengketa, serta perkara perkara yang membinasakan lainnya. Ketahuilah bahwa penyakit penyakit hati adalah jauh lebih membunuh daripada penyakit penyakit badan, dan pengobatannya adalah dengan menghadap kepada Allah, meninggalkan maksiat maksiat, memperbanyak do'a, mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah ibadah nawafil dan ketaatan ketaatan, bergaul dengan teman yang shaleh, selalu berdzikir kepada Allah, serta selalu memperbanyak sholat khususnya lagi qiyamullail.

Keempat, pelajarilah realita umat kalian serta hukum syar'i atas realita tersebut. Dan janganlah kalian taqlid buta kepada para tokoh sehingga bila mereka beriman maka kalianpun ikut beriman, dan bila mereka kafir maka kalianpun ikut ikutan kafir. Ikutilah dalil syar'i dan mengarahlah kemana saja ia mengarah. Kalian harus mengikuti pemahaman para salaf kita yang shaleh yang berada pada tiga abad yang utama.

Kelima, jagalah umur kalian dan sibukkanlah waktu waktu kalian dalam ketaatan kepada Allah dan menolong dien-Nya, serta beramallah dengan tekun dan semangat. Karena sesungguhnya seseorang itu tergantung pada amalnya, bila amalnya baik maka iapun baik dan bila amalnya jelek maka iapun jelek. Jadilah contoh dan suri tauladan yang baik bagi orang selain kalian. Jangan sampai islam dalam keadaan bahaya karena sebab kalian, karena kalian sebenarnya tengah berada pada tsughur (celah/gap/tempat penjagaan) yang besar, dan tidak sesogyanya seorang penjaga itu tidur atau lalai di saat berjaga. Ketahuilah bahwa para tokoh (rijaal) tidak mengenal istirahat, dan benar Imam Syafi'i rohimahullah ketika beliau berkata,
راحة الرجال غفلة
“Istirahatnya para tokoh (rijaal) adalah sebuah kelalaian.”

Terakhir, bila para pemuda muwahhid tidak mengangkat panji tauhid pada zaman ini, lalu kapan lagi mereka akan melakukannya?! Apakah menunggu setelah panji tersebut hilang atau terjatuh, (kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut)?! Ketika mereka berpura pura menangis karena menelantarkan haknya, apakah salah seorang dari mereka tidak mendengar firman Allah Ta'ala,
لا يستوى منكم من أنفق من قبل الفتح وقاتل أولئك أعظم درجة من الذين أنفقوا من بعد وقاتلوا
"Tidaklah sama diantara kalian orang yang menginfaqkan hartanya dan berperang sebelum penaklukan. Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang orang yang menginfaqkan hartanya dan berperang sesudah itu."
(Al Hadid: 10)

Apakah salah seorang dari mereka tidak menginginkan untuk menjadi termasuk dari golongan As Sabiquunal Awwaluun yang lewat perantaraan mereka Allah menolong dien ini dan meninggikan panji tauhid, serta Dia menjadikan mereka sebagai imam imam dien ini dan menjadikan amalan baik orang orang yang mengikuti mereka termasuk dalam lembaran lembaran amalan mereka? Apakah mereka tidak butuh pahala Allah dan balasan-Nya yang agung ini?

Allah Ta'ala berfirman,
يا أيها الناس أنتم الفقراء إلي الله والله هو الغني الحميد
"Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah, dan Allah Dialah yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji"
(Fatir: 15)

Allah Ta'ala berfirman,
ومن يبخل فإنما يبخل عن نفسه والله الغني وأنتم الفقراء وان تتولوا يستبدل قوما غيركم ثم لا يكونوا أمثالكم
"Dan barang siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah lah yang Maha Kaya sedangkan kalianlah orang orang yang faqir. Dan jika kalian berpaling niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum lain, dan mereka tidak akan seperti kalian."
(Muhammad: 38)

Dan Allah Ta'ala berfirman,
ومن جاهد فإنما يجاهد لنفسه إن الله لغني عن العالمين
"Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar benar Maha Kaya tidak membutuhkan sesuatupun dari alam semesta."
(Al Ankabuut: 6)

Ketahuilah bahwa panji ini tetap tinggi dan dien ini tetap tertolong, lewat perantara kita ataupun orang selain kita. Maka jangan halangi diri kalian untuk menjadi termasuk golongan yang menolong dien ini. Saya memohon kepada Allah untuk memperkerjakan kita semua untuk menolong dien ini.

Sumber: http://terapkan-tauhid.blogspot.com/2012/10/nasehat-syeikh-abul-walid-al-maqdisiy.html?m=1

Penulis: Hisyam Ibn ‘Ali As Su‘aidani
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari