Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Perbedaan Sistem Syura Islam dengan Sistem Demokrasi Kafir

Oleh Turki Ibn Mubarak Al Binali

Syura Islam ma’adzallah, (tidak ada) seorang nuslim memilih perkara yang telah Allah tetapkan padanya dan memusyawarahkannya, apakah kita akan menerima hukum Allah atau tidak? Mustahil bagi seorang muslim untuk memilih yang demikian ini. Sebagaimana dikatakan, “Apabila telah ada keterangan (dalil), maka batallah semua pendapat.”  Inilah perbedaan awal antara demokrasi dan syura Islam. Perbedaan lainnya bahwa syura berlandaskan pada pendapat yang benar, bukan pendapat mayoritas manusia, dan bukan pula pendapat mayoritas anggota syura. Akan tetapi pendapat yang benar, tepat, dan lurus yang dipilih dan dilandaskan padanya syura Islam.

Adapun dalam demokrasi, mereka memilih dari pendapat kebanyakan meskipun secara akal bahwa pendapat ini merupakan kebatilan yang paling batil dan kerusakan yang paling rusak. Mereka mengambil dan menerbitkannya atas nama semua, baik orang yang setuju atau tidak. 

Banyak ayat dalam Kitabullah yang menjelaskan bahwa mayoritas adalah bukan apa-apa, bukan sebagai qarinah/keterangan, bukan pula dalil bahwa orang-orangnya termasuk Ahlul Haqq. Adapun demokrasi menjelaskan, menyatakan, dan mengumumkan bahwa mayoritas itulah yang di atas kebenaran.

Syura Islam itu terdiri dari Ahlul Halli wal ‘Aqdi dari kaum muslimin. Sungguh para ulama SEMUA MAZHAB telah menyusun mengenai Ahkam Sulthaniyyah (hukum-hukum pemerintahan), mereka menyebutkan bahwa syarat Ahlul Halli wal ‘Aqd adalah orang-orang yang adil di antara kaum muslimin.

Adapun demokrasi memusyawarahkan pada semua orang, mengemukakan perkara pada semua orang, baik untuk laki-laki ataupun wanita, baik mukmin atau fajir, baik muslim atau kafir, baik ahli kebaikan atau ahli kebatilan, baik Ahlus Sunnah atau Rafidhah, Nushairiyyah, sekuler, Komunis, Sosialis, Liberal, dan lain-lain. Semuanya menjadi satu di bawah naungan demokrasi. Tidak dibedakan di antara mereka. Sedangkan Allah telah membedakan baik antara hukum-hukum dunia maupun akhirat, antara mukmin dan kafir.

(Khotbah Hukmud Dimukrathiyyah)

Sumber: Saluran Telegram, Sabilun Nashr

Penulis: Turki Ibn Mubarak Al Bin'ali
Penerjemah: Abu Mu'adz Al Jawi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari