Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Pondasi Salah Kaidah "Hukum Asal Manusia Itu Kafir"

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Kita katakan bahwa pertanyaan ini sendiri keliru karena dibangun di atas akidah mereka yang mengafirkan seluruh kaum muslimin yang tinggal di negeri-negeri kaum muslimin hari ini yang diperintah oleh orang-orang yang kafir dan murtad yang bagi kita berdasar pendapat yang lebih benar di kalangan para ulama terhitung diyyarul kufri (negeri kafir) dan hal ini pula yang mereka tegaskan sendiri di akhir pertanyaan tersebut.

(Mengafirkan seluruh kaum muslimin yang tinggal di negeri kafir) inilah pangkal kesalahan parah dan kesesatan nyata mereka. Abu Maryam Al Mukhlif telah menegaskannya secara terang-terangan atau ia hampir menegaskannya secara terang-terangan dalam sebagian tulisannya yang telah saya lihat.

Ini adalah pendapat yang tidak dikenal, kecuali dari sebagian Khawarij zaman dahulu.

Kebenaran yang tidak ada sedikit pun keraguan padanya dan kami tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama tentangnya adalah tidak mesti berkonsekuensi antara status sebuah negeri dan status penduduknya karena sebuah negeri disebut negeri Islam atau negeri kafir berdasar hukum-hukum Islam atau hukum-hukum kafir yang berlaku di negara tersebut, yaitu hukum-hukum yang diterapkan dan ditinggikan oleh kekuasaan politik yang berkuasa di negara tersebut, maka kita bisa mendapatkan sebuah negeri Islam yang seluruh penduduk atau mayoritas penduduknya umat Islam. Kita juga bisa mendapatkkan sebuah negeri Islam yang seluruh atau mayoritas penduduknya orang kafir, misalnya jika mereka menerima perjanjian dzimmah dengan kita dan mereka rela diatur dengan syariat Islam. Demikianlah, terkadang didapatkan sebuah negeri kafir sementara mayoritas penduduknya umat Islam dan terkadang didapatkan sebuah negeri Islam sementara mayoritas penduduknya ornag-orang kafir. Masalah ini telah dikenal luas di kalangan ulama dan dijelaskan dalam buku-buku mereka. Dari kalangan ulama kontemporer, Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisi telah membahasnya panjang lebar dalam bukunya Ar Risalah Ats Tsalatsiniyyah saat menyebutkan kesalahan kedua dalam masalah pengafiran, yaitu mengkafirkan atas dasar kaidah “Hukum asal masyarakat adalah kafir,” karena negeri tempat mereka hidup adalah negeri kafir.

Demikian pula masalah ini telah diingatkan dan dijelaskan oleh Syaikh Hasan Qa'id Abu Yahya Al Libbi hafizhahullah dalam bukunya Minnatul Khabir fi Hukmi Iqamatil Hudud fi Daril Harbi wat Ta’zir, pada awal buku tersebut saat membahas masalah pembagian dunia menjadi negeri Islam dan negeri kafir. Beliau meneliti dan menarik kesimpulan tentang definisi kedua negeri tersebut serta hukum-hukumnya, kemudian beliau mengingatkan permasalahan ini dan mengutip sejumlah perkataan ulama.

Maka hendaknya saudara pencari kebenaran mengkaji kedua tulisan tersebut karena ia merupakan pembahasan yang penting dan dengannya diketahui jawaban atas bagian kedua dari pertanyaan tentang jihad defensif ini. Di sini saya hanya mengisyaratkan secara ringkas dan mencukupkan diri dengan menyebutkan referensi (yang harus dikaji). Allah semata yang memberi taufik.

Hendaklah diketahui bahwa kesalahan parah Abu Maryam Al Mukhlif dan pengikutnya ini termasuk salah satu bukti kelemahan pengetahuan mereka dan jauhnya mereka dari pengkajian secara mendalam dalam bidang ilmu dan bahwa mereka bukanlah termasuk golongan ulama. Mereka tertipu oleh istilah-istilah, lafal-lafal, dan ungkapan-ungkapan tanpa melakukan pengkajian yang mendalam dan pemilah-milahan terhadap makna-makna berbagai istilah, lafal, dan ungkapan tersebut.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar