Oleh Abu Asybal Usamah
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

يآ ايها الذين آمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian puasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”
(Al Baqarah: 183)

Saudara-saudariku, bulan puasa sudah tinggal beberapa minggu lagi. Hari demi hari kedatangannya begitu terasa. Apalagi bagi mereka yang merindukan bulan ini. Di bulan ini sarat dengan perjuangan. Baik itu secara historis maupun ideologis. Secara historis kita bisa melihat bagaimana ummat Islam di awal periode Madinah, mereka generasi terbaik mengangkat panji Islam dan senjata untuk melawan pengusung panji kekufuran dari barisan musyrikin Makkah. Dan perjuangan ideologis adalah dengan meneguhkan diri diatas ketakwaan dan pengabdian, mendakwahkannya, sabar di atas jalan beramal dan dakwah.

Kita mengetahui perang Badar Kubra terjadi pada bulan Ramadhan. Mereka turun ke medan juang melawan arogansi kekufuran. Mereka melakukan jihad secara syar’i (ini adalah tuntutan syar’i yang maknanya tidak bisa dirubah yaitu perang melawan orang kafir, terbunuh atau menang) dan secara bahasa (dalam konteks ini jihad memiliki makna yang luas dan melakukannya tidak cukup menggugurkan kewajiban jihad syar’i). Ulasan jihad yang dipaparkan Syaikhul Islam Ibnul Qayyim Al Jauziyyah dalam kitabnya ‘Zaadul Ma’ad fi Hahdyi Kahiril ‘Ibad’ memberikan kita gambaran tentang tingkatan jihad.

Saudara-saudariku, beliau membagi tingkatan jihad ada empat: jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setaan, jihad melawan orang kafir, dan jihad melawan orang munafikin. Keempat tingkatan tersebut meggambarkan urgensi jihad itu sendiri. Jihad melawan munafikin ditaruh diposisi keempat karena mereka orang-orang yang berbaju Islam, namun menusuk Islam dan kaum muslimin dari belakang. Namun hanya Allah lah yang mendatangkan mudarat.

Namun kelihatannya kita belum sanggup (karena kelemahan kita) melakukan jihad yang tingkatan ketiga atau keempat. Mengapa? Karena untuk mengukur kualitas dia bisa teguh di medan pertempuran aadalah mereka yang telah terbiasa dan tegar melawan hawa nafsunya dan memerangi setan sehingga mereka tegar pula dalam menghadapi orang-orang kafir dan munafikin.

Terus, bagaimanakah kita jihad melawan hawa nafsu? Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah mengatakan,
فجهاد النفس أربع مراتب أيضا :
إحداها : أن يجاهدها على تعلم الهدى ودين الحق الذي لا فلاح لها ولا سعادة في معاشها ومعادها إلا به ، ومتى فاتها علمه شقيت في الدارين .
الثانية : أن يجاهدها على العمل به بعد علمه ، وإلا فمجرد العلم بلا عمل إن لم يضرها لم ينفعها .
الثالثة : أن يجاهدها على الدعوة إليه ، وتعليمه من لا يعلمه ، وإلا كان من الذين يكتمون ما أنزل الله من الهدى والبينات ، ولا ينفعه علمه ، ولا ينجيه من عذاب الله .
الرابعة : أن يجاهدها على الصبر على مشاق الدعوة إلى الله وأذى الخلق ، ويتحمل ذلك كله لله . فإذا استكمل هذه المراتب الأربع صار من الربانيين ، فإن السلف مجمعون على أن العالم لا يستحق أن يسمى ربانيا حتى يعرف الحق ويعمل به ويعلمه ، فمن علم وعمل وعلم فذاك يدعى عظيما في ملكوت السماوات.
Adapun jihad melawan hawa nafsu, ia juga memiliki empat tingkatan: Pertama: ia memeranginya dengan cara menuntut ilmu Al Huda (Islam) dan dinul Haqq yang tidak ada kejayaan dan kebahagiaan dunia akhirat kecuali dengannya (Islam). Dan ketika seseorng melawatkan belajar ini, maka ia akan sengsara dunia akhirat.
Kedua: memeranginya dengan mengamalkan apa yang ia pelajari (mengamalkan Islam), kalau tidak ilmu itu akan membahayakannya atau tidak memberikannya manfaat.
Ketiga: memeranginya dengan mendakwahkannya, mengajarkan orang belum mengetahuinya. Kalau tidak dia terancam masuk kedalam golongan orang yang menyembunyikan petunjuk yang diturunkan oleh Allah. Ilmunya tidak bermanfaat baginya bahkan akan berbuah adzab.
Keempat: memeranginya dengan bersabar diatas kesulitan dakwah dan disakiti orang (baik verbal maupun nonverbal.red). ia menanggung semua beban tersebut. Jika ia menyempurnakan tingkatan ini, maka dia akan termasuk golongan rabbaniyyin. Karena salafush shalih sepakat bahwa seorang tidak dikatakan kecuali dia mengetahui yang haq, mengamalkannya dan mengajarkannya. Barangsiapa berilmu, beramal kemudian mengajatkkan ilmunya, maka itulah orang yang disebut terhormat di singgasana langit.

Saudara-saudariku, begitu berharganya momen Ramadhan ini untuk menempa diri. Dari nama saja sudah tercermin. Arti Ramadhan adalah panas. Panasnya padang pasir saat itu yang terasa membakar kulit. Maka di bulan ini, kita pun mengambil pesan bahwa keteguhan kita pun dibakar dan dipanggang hingga benar-benar berada pada tempaan keimanan. Dan tujuan dari difardukannya puasa dan jihad tidak lain agar kita menjadi orang yang bertakwa.

Sejalan dengan itu, pertempuran pun memerlukan persiapan. Ketika berada di Madinah dan tekanan dari pendudukan Makkah masih berjalan. Maka Allah terlebih dahulu mengizinkan (belum mewajibkan) kaum muslimin untuk berperang membela diri. Namun, ketika melihat kondisi kaum muslimin yang masih terbilang lemah, maka mereka diperintahkan i’dad, ayat 60 Surat Al Anfal (hal ini berkenaan dengan fase-fase difardukannya jihad).

Apa yang kita persiapkan di bulan ‘JIHAD’ ini? Apakah siap melawan hawa nafsu kita? Apakah kita sudah mengalahkan nafsu kita? Betapa banyak dosa yang kita perbuat, kelalaian, kekhilafan. Sedangkan musuh-musuh Islam semakin menjadi. Apakah engkau berdiri di front pembawa panji Islam? Maka, menyambut bulan ‘jihad’ ini, persiapan ‘amunisi’mu.
و تزودوا ف إن خير الزاد التقوى
"Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
(Al Baqarah: 179)

Wallahu Ghalibun ‘ala amrihi walakinna aktsrannasi la ya’lamun.

Sumber: http://suarajihadislam.blogspot.com/2012/07/bulan-jihad-di-pelupuk-mata-persiapkan.html?m=1, dengan penyesuaian

Penulis: Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Berjalan di Atas Manhaj yang Tidak Berubah-Ubah (96)
Ulama Sunni Mesir: Tidak Ada Satu Pun Masjid Sunni di Teheran (74)
Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Secara Istilah (91)
Talak Terucap dalam Kondisi Marah (85)
Kaidah: Tidak Semua yang Diibadahi Itu Tagut (134)