Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Seputar Menjadi Kadi

Oleh Ali Ibn Khudhair Al Khudhair

Pertanyaan:
Seorang kerabat kami adalah lulusan Universitas Al Imam dan ia sekarang   bekerja sebagi kadi di suatu daerah dan seorang kerabat yang lain bekerja sebagai penyidik di Lembaga Penyidikan dan Kejaksaan dan mereka itu berdalih bahwa para pemimpin mereka mengaku memberlakukan hukum syariat. Maka apakah wajib menasihati mereka agar meninggalkan pekerjaan mereka? Dan bila mereka bersikukuh di atas pekerjaannya, maka apakah wajib membenci dan berlepas diri dari mereka?

Jawaban:
Kadi yang melaksanakan syariat adalah kadi yang baik dan ia telah melaksanakan kewajibannya, maka semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Adapun kadi yang (merujuk kepada syari’at), namun ia melakukan kecurangan   karena hawa nafsu di dalam kasus tertentu (qadliyyah mu’ayyanah), maka ia adalah maksiat kepada Allah lagi fasik yang telah melakukan suatu dosa besar, maka ia itu dicintai dengan sebab keimanan yang ada padanya dan dibenci dengan sebab maksiat yang ada padanya. 

Adapun kadi yang melaksanakan undang-undang buatan atau aturan dan 
hukum yang menyelisihi syariat, maka ia itu adalah kafir lagi murtad secara ta’yyin sehingga ia itu dibenci dan dimusuhi serta dikafirkan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
وَ مَنۡ لَّمۡ یَحۡکُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡکٰفِرُوۡنَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
(QS. Al Ma'idah: 44)

Rasulullah shalallahu 'alaihi wa salam bersabda, “Kadi itu ada tiga: satu kadi 
di surga dan dua kadi di neraka.”

Kemudian beliau menyebutkan bahwa kadi yang di surga adalah yang adil, sedangkan yang di neraka adalah kadi yang aniaya dan yang jahil.

Sumber: Saluran Telegram, Mimbar Tauhid Wal Jihad, dengan penyesuaian.

Penulis: 'Ali Ibn Khudhair Al Khudhair
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umari