Oleh Abu Asybal Usamah
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

Para pembaca yang budiman. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa tanggal 2 Mei 2011 adalah hari yang bersejarah khususnya bagi Amerika Serikat (semoga Allah mempercepat kehancuran mereka) di mana pemimpin Kaidah, Syaikh Usamah bin Ladin, terbunuh dalam sebuah operasi yang dilancarkan oleh pasukan khusus Navy Seal di kediaman Usamah di Kota Abottabad, Islamabad. Syahidnya (insya Allah) Syaikh Usamah bin Ladin tidak menjadikan Amerika dan dunia yang menjadi pengikutnya merasakan keamanan. Ini memang janji beliau kepada Allah, kemudian umat, “Saya bersumpah demi Allah Yang Maha Agung, yang telah meninggikan langit tanpa tiang, Amerika dan orang-orang yang hidup di Amerika tidak akan merasa aman sebelum kami benar-benar merasa aman di Palestina dan sebelum hengkangnya tentara kafir dari Jazirah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam.”

Syaikh Usamah adalah seorang mukmin yang saleh yang apabila berkata ia menepati perkataannya dan Allah realisasikan. Ucapan yang sangat diperhitungkan kawan dan lawan. Namun, ada perkataan Syaikh Usamah yang senantiasa terngiang di telinga. Ketika tiga bulan berlalu setelah peristiwa 11 September, beliau tampil di hadapan dunia melalui kanal Al Jazeera menyampaikan beberapa poin. Beliau mengancam Amerika dengan ancaman yang keras, meski tutur kata beliau lembut. Kata-kata yang tidak begitu terlontar saja. Setelah menawarkan kepada Amerika solusi keluar dari krisis dengan menarik dukungannya dari Israel. Saat mengomentari operasi 11 September yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Arab, “Mereka telah mengangkat kepala muslimin dan memberikan Amerika pelajaran yang ia tidak akan melupakannya atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sungguh saya telah memperingatkan pada pertemuan lalu lewat ABC TV bahwa Amerika jika intervensi dalam konflik ini dengan putra-putra Haramain (Mekkah-Madinah), dia akan melupakan nasibnya pada Perang Vietnam dan ini atas karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Oleh karena itu mari kita ukur kepahitan Amerika saat Perang Vietnam selama 14 tahun itu dengan 10 tahun dalam memerangi Syaikh Usamah dan mujahidin di Afghanistan dan Iraq.

Kepahitan yang Diderita oleh AS dalam Perang Vietnam

Sebagaimana layaknya penjajahan, AS mengirimkan pasukannya ke Vietnam secara bertahap. Hal itu dilakukan sejak tahun 1954 M, di mana mereka memberikn dukungan militer kepada Vietnam Selatan. Pada tahun 1961 M, jumlah tentara AS mencapai 16.000 personel. Pada mulanya perang dilancarkan melawan Vietnam Utara oleh Vietnam Selatan. Namun saat AS masuk intervensi, maka Vietnam Utara meminta bantuan dari Uni Soviet alias Rusia. Singkat cerita dalam kurun waktu 14 tahun, Amerika mengalami kerugian besar. jumlah tentara AS yang tewas sekitar 16.000 orang. Bahkan lebih dari 30.000 nyawa tentara AS melayang. Cuma media AS menutup-nutupi hal itu.

Inilah Kerugian Pahit yang Diderita AS dalam Perang di Afghanistan dan Iraq

Amerika juga mengalami kerugian berupa hancurnya 3719 pesawat tempur dan 4869 helikopter tempur. Dan AS telah menggelontorkan sekitar 200 juta dollar selama perang tersebut. Sedangkan dalam perang di Irak, tercatat dari 2003 sampai 23 Juli 2008, dalam rentang waktu itu operasi Perlawanan Irak mencapai 164 ribu operasi perang. Di mana pada puncaknya bulan Oktober 2006, dalam sehari bisa terbilang 180 serangan yang dilancarkan dan yang mati bisa 106 personel.

Jumlah tentara AS yang tercatat tewas dalam serangan hingga Juli 2008 adalah sekitar 33.615 orang. Belum lagi yang tewas di rumah sakit dan yang tewas selain dalam serangan serta pada saat kembali. Sedangkan korban luka-luka di barisan tentara AS yang tercatat adalahi 224.000 jiwa. Belum lagi ditambah 300 ribu dari mereka mengalami gangguan kejiwaan.

Kerugian materi yang diderita pun sangat besar. Di mana pada tahun 2003 AS membiayai perang senilai 4,4 miliar dollar perbulan. Pada tahun 2008 angka itu naik menjadi 12 miliar perbulan. Total dari tahun 2003-2008 adalah 1,8 triliun dollar. Pada tahun 2009, biayanya pun naik menjadi 7,3 miliar dollar per bulan. Sedangkan kemalangan Amerika dalam perang Afghanistan begitu nampak jelas. Seorang jurnalis Arab, Amir Abdul Mun’im, mencatat kerugian yang dialami oleh Amerika dalam perang Afghanistan pada sampai tahun 2010.

Sekitar 600 ribu lebih perlengkapan perang Amerika menderita kergian berupa tank, mobil tempur lapis baja, Humvee dan helicopter. Dan korban di barisan militer AS mencapai 1 juta lebih dari korban jiwa, luka-luka, caacat, gangguan mental dan terkena penyakit otak.

Kebanyakan kerugian Amerika di Afghanistan disebabkan operasi ranjau (atau bom pinggir jalan) dan operasi istisyhadiyyah. Seorang kakek berusia 69 tahun, Syaikh Shalih Jan, dan anaknya, Atta Jan, mampu menghancurkan 32 tank dan 6 mobil militer selama 21 bulan. Peperangan pun masih terus berlangsung. Tidak hanya di Afghanistan dan Irak saja. Amerika juga turun langsung di Yaman. Mereka pun merasakan kepahitan dalam memerangi Kaidah Jazirah Arab. Dan ini yang dikatakan oleh Syaikh Usamah pada kesempatan yang sama, “Atas karunia Allah, berakhirnya Amerika sudah dekat dan berakhirnya Amerika tidak tergantung dengan hamba yang fakir ini (beliau). Usamah hidup atau mati atas karunia Allah telah tegak kebangkitan.”

Allahu Akbar!! Allahu Akbar !! Allahu Akbar!! Wallahu Ghalibun ‘ala amrihi walakinna aktsrannasi la ya’lamun.

Sumber: http://saif-tvnews.blogspot.com/2013/05/ucapan-syaikh-usamah-yang-terbukti.html?m=0, dengan penyesuaian

Penulis: Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Berjalan di Atas Manhaj yang Tidak Berubah-Ubah (82)
Pengertian Fikih Secara Bahasa dan Secara Istilah (82)
Kedustaan di Balik Jihad Nikah (94)
Dinamika Perselisihan Talafi Hajuriyyun (98)
Mengenal Syaikh Turki Al Bin'ali (93)