Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Udzur bi Jahl adalah Masalah Fikih

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Pertama, ketahuilah bahwa masalah ini termasulah masalah ijtihad yang caranya adalah istinbath (penyimpulan hukum) dan cara mengetahuinya adalah penggalian makna dalil, karena ia bukanlah masalah yang telah disebutkan dalilnya secara nas dalam syariat. Wallahu a’lam.

Perkataan kami bahwa permasalahan ini tidak disebutkan dalilnya secara nas dalam syariat bermakna tidak ada nas terhadap masalah ini secara umum dan sebagai sebuah kaidah, misalnya. Hal ini tidak menegasikan bahwa di dalam nas-nas firman Allah dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam terdapat hal yang menunjukkan uzur bagi seseorang tertentu pada suatu keadaan tertentu atau keadaan-keadaan lain. Kemudian nas-nas tersebut yang menuat penunjukan-penunjukan tersebut dipakai dan dijadikan dalil oleh para ulama fikih dan dalam mengambil kesimpulan hukum (istinbath) dari keseluruhan (penujukan-penunjukan nas tersebut) terjadilah perbedaan pendapat.

Kedua, oleh karena itu berbeda-berbeda pemahaman para ulama dan beragam ijtihad mereka dan dalam masalah tersebut muncul pendapat-pendapat ulama yang berbeda-beda yang insyaa Allah akan kami isyaratkan, seperti halnya masalah-masalah ijtihad dan perbedaan pendapat lainnya.

Kelima, ketahuilah bahwa masalah ini termasuk masalah fikih (dengan pengertiannya secara istilah, yaitu mengetahui hukum-hukum syariat dalam perkara-perkara amaliah yang disimpulkan dari dalil-dalil yang terperinci). Hal itu karena masalah ini adalah amaliah dan cara mengetahuinya adalah dengan menggali penunjukan dalil (istidlal) dan menggali kesimpulan hukum (istinbath) seperti yang tadi kami sebutkan.

Ia berupa fatwa atau keputusan hakim dan menurut para ulama masalah ia masuk dalam masalah kemurtadan (ar ridddah), yaitu sebuah bab dalam ilmu fikih. Hal ini tidak berarti masalah ini tidak disebutkan dalam pembahasan ilmu akidah dan tauhid karena tidak samar lagi bahwa masalah ini memiliki kaitan yang erat dengan akidah dan tauhid. Hal ini termasuk bagian dari masuknya satu permasalahan ke dalam beberapa cabang ilmu. Selain itu, setiap hukum syar’i ‘amali memiliki kaitan dengan akidah, yaitu meyakini hukum tersebut. Namun masalah ini lebih spesifik dengan bab fikih seperti telah saya sebutkan. Baik Anda yang menganggapnya sebagai bagian dari ilmu ini (fikih) atau ilmu itu (akidah dan tauhid), ia tetap saja termasuk masalah ijtihad.

Sumber: https://www.arrahmah.com/serial-kajian-tentang-takfir-muayyan-3-kebodohan-sebagai-udzur-dalam-pengkafiran-1/, dengan penyesuaian.

Penulis: ‘Athiyyatullah Al Libbi
Penerjemah: Muhib Al Majdi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al ‘Umari