Oleh Abu Asybal Usamah
@ Pusat Media Mullah ‘Umar

بسم الله الرحمن الرحيم

Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam tercurah atas Nabi kita Muhammad, atas keluarganya, atas sahabat-sahabatnya semua.

Perjalanan revolusi Suriyyah selama 2 tahun memunculkan nama-nama bintang ‘lapangan’ yang lantang menyuarakan dukungan terhadap revolusi rakyat Suriah. Yang sering kita dengar adalah Syaikh 'Adnan Al Ar’ur. Beliau bahkan mengawasi sepak terjak pejuang Suriah, Tentara Kemerdekaan Suriyyah.

Namun di samping itu, ada nama lain yang muncul sebagai pendukung revolusi Suriah. Hal ini bukan sebagai pembeda antara satu dengan yang lain. Namun ada sesuatu yang unik dari sosok ini. Dia pun ikut dalam medan pertempuran setelah memperingatkan Milisi Syiah Hizbullah Lebanon agar tidak mendukung Bashar Assad dalam membantai rakyat Suriah.

Beliau adalah Syaikh Ahmad Muhammad Hilal Al Asir Al Hussaini. Ulama Sunni Lebanon yang dimusuhi oleh milisi Syi'ah Hizbullah, Milisi Syi'ah Harakah Amal, pasukan 14 Maret, dan oknum Tentara Lebanon. Syaikh Ahmad Al-Asir lahir di daerah ‘ainul halwa, Shaida, Lebanon Selatan, pada tanggal 21 Rajab 1388 H bertepatan 13 Oktober 1968 M. ayah beliau adalah Muhammad Hilal, seniman dan mantan penyanyi dan ibu beliau adalah seorang penganut Syiah dari kota Shur. Syaikh Ahmad Al Asir memilik dua istri dan tiga orang anak: Muhammad, Abdurrahman, dan Umar. Dia hidup di dalam rumah yang bersuasana seni karena pengaruh pekerjaan ayah beliau seorang penyanyi. Syaikh Al-Asir tumbuh di daerah Harrah, Shiada, yang memiliki populasi penduduk mayoritas Syiah yang jauh dari religious.

Beliau adalah seorang Da’i Lebanon Sunni dan imam Masjid Bilal bin Rabah. Beliau dianggap sebagai ulama Sunni rujukan di Shaida. Syaikh Al-Asir memulai perjalanan ilmunya pertama kali di sekolah-sekolah Shaida.

Kemudian beliau melanjutkan studi di Universitas Islam Beirut yang berafiliasi ke Darul Fatwa. Syaikh Ahmad mengambil jurusan syari’at dan mendapatkan ijazah. Beliau juga mengambil diploma dalam bidang Al-Fiqhul Muqorin.

Nasab

Yang lebih menarik lagi, beliau dari keturunan ahlul bait Rasulullah, dari Imam Husain bin Ali radahiyallahu ‘anhu. Makanya beliau memiliki gelar Al-Husaini di belakang nama Al-Asir. Dan beliau mendapatkan keabsahan nasab beliau dari otority dan tambahan Al-Husaini di belakang namanya pada tanggal 11 Julai 2006.

Kakek beliau adalah Syaikh Yusuf bin Abdul Qadir bin Muhammad Al-Husaini (1232 H-1307 H/1819 M-1889 M), ulama besar terkenal di Lebanon pada zamannya. Adapun julukan Al-Asir sebabnya adalah salah seorang dari kakek beliau pada era pendudukan Perancis, ditahan oleh pihak Perancis di Malata. Ketika ia kembali ke Shaida, maka warga mengenalnya dengan sebutan Al-Asir.

Perang Melawan Israel

Beliau lebih menyelami kehidupan reliigius setelah invasi zionis Israel ke Lebanon pada tahun 1982 M. Pada tahun 1985 M sampai 1988, beliau bergabung dalam barisan Jamaah Islamiyyah berperang melawan pendudukan Zinois ‘alaihim la’ainulla tabarok wa Ta’ala.

Pengalaman Bersama Jama’ah Tabligh

Ketika kita menyebut Jama’ah Tabligh (JT), maka yang terbayang di benak kita adalah sekelompok muslimin yang berjalan di muka bumi Allah Azza wa Jalla mengajak muslim lainnya untuk dekat dengan masjid. Mereka juga mengajak muslim untuk ikut dalam rombongan dakwah mereka. Syaikh Ahmad Al-Asir pernah ikut dalam kafilah mereka. Pada tahun 1989 M, beliau mulai berkecimpung dalam kafilah JT. Syaikh Ahmad pun melakukan beberapa kali perjalanan dakwah ke luar Lebanon. Beliau sempat mendengarkan bayan-bayan dari Masyaikh dan Ulama JT di Pakistan dan India.

Ia pun mengunjungi masjid-masjid sunni di desa-desa dan kota-kota, mengajak muslimin menghidupkan amalan-amalan masjid seperti halaqoh, khidmah dan syuro. Syaikh Ahmad Al-Asir temasuk dari pendiri Jama’ah Tabligh di Shaida dan Selatan Lebanon.

Sumber: http://urusanulama-hl.blogspot.com/2013/10/ulama-ahlul-bait-yang-pernah-bersama.html?m=1, dengan penyesuaian

Penulis: Abu Asybal Usamah
Editor: Muhammad Ibn Yusuf

ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ

Baca Juga

Tidak Ada Politik, Kecuali yang Sesuai Syariat (86)
Pernyataan Ulama Asy'ariyyah tentang Pembunuhan Syaikh Ramdhan Al Buthi (68)
Alim yang Beramal atau Mujahid yang Mukhlis? Mana yang Lebih Baik? (76)
Kaidah: Tidak Semua yang Diibadahi Itu Tagut (124)
Pembahasan Seputar Penamaan Darul Islam dan Darul Kufr (110)