Berminat pasang iklan di sini? Oke. Klik di sini sekarang!

Waspadalah terhadap Hal-Hal yang Aneh

Oleh Jamal Athiyyatullah Al Libbi

Saudara-saudara yang baik, menginginkan kebenaran, mengharapkan rahmat Allah, dan mencari rida-Nya harus mengetahui bahwa ilmu itu diambil dari para ahlinya (ulama) dan orang-orang yang dikenal keilmuannya serta orang-orang yang mendapatkan rekomendasi atas ilmu mereka. Mereka dikenal dengan keistikamahan dan kelurusan mereka secara umum, kesalehan kondisi mereka, keadilan, dan ke-tsiqah-an mereka, jauhnya mereka dari kesembronoan, sikap berlebih-lebihan dan sikap meremehkan, jauh dari terperosok dalam pendapat-pendapat yang asing, menyempal, dan nyleneh (menyelisihi mayoritas ulama yang terpercaya).

Bagaimana seorang muslim —bahkan seorang manusia yang berakal sehat sekalipun- memperkenankan dirinya sendiri mengambil perkara-perkara yang rumit lagi detail yang tidak ia pahami dengan baik —yang kedudukan dirinya sebenarnya seorang yang hanya mampu taklid belaka atau seperti orang yang taklid belaka- dari seseorang yang tidak ia ketahui kedudukannya dalam dunia ilmu, juga tidak mendapatkan rekomendasi dari orang-orang berilmu, orang-orang saleh, dan orang-orang baik?

Ia belum mengetahui kapasitas jihad dan amal saleh orang tersebut. Ia juga tidak pernah bergaul bersamanya dan tidak pula mengenalnya sehingga ia bisa menaruh kepercayaan penuh kepada kesalehan, ketakwaan, dan kewarakan orang tersebut. Padahal, orang tersebut menyelisihi seluruh ulama, orang saleh, orang baik, imam, dan tokoh kaum muslimin. Bahkan orang itu justru menyimpang sendiri, menyelisihi para ulama yang tsiqah, dan berlaku sembrono!

Minimal kondisi orang tersebut akan membuat orang yang berakal sehat bersikap teliti, hati-hati, tidak buru-buru menerima apa yang dikatakan oleh orang tersebut (Abu Maryam Al Mukhlif dan orang yang sepertinya), dan tidak akan menerima pendapat yang sudah nampak jelas keanehan dan penyelisihannya terhadap pendapat para ulama yang terpercaya.

Oleh karena itu para ulama sering memperingatkan untuk mewaspadai ilmu dan perkara-perkara yang aneh. Dalil-dalil syar’i telah menunjukkan besarnya keutamaan bersama "al jama’ah” dan "as sawadul a’zham" selama memungkinkan. Maksudnya, dalam selain perkara yang telah nampak begitu jelas kebenaran bagi seseorang, maka dalam kondisi tersebut ia harus mengikuti kebenaran yang nampak jelas dengan dalil dan bukti nyata tersebut, sekalipun ia menyelisihi seluruh manusia dan seluruh manusia menyelisihinya. Karena dalam kondisi tersebut, kebenaran adalah al jama’ah sekalipun engkau sendirian (memegang kebenaran tersebut), seperti yang dikatakan oleh sahabat 'Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Oleh karenanya juga, pendapat yang benar menurut sekelompok ulama bahwa pendapat jumhur, yaitu mayoritas ulama merupakan salah satu faktor yang menguatkan pendapat, saat seorang ulama peneliti mendapati kekuatan dalil (pihak-pihak yang berbeda pendapat) sama kuat.

Keanehan (gharabah) adalah tanda dan “mengisyaratkan” —seperti istilah bahasa pada hari ini- akan rusaknya sebuah pendapat dan tidak benarnya pendapat tersebut. Keanehan mengharuskan sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa, melakukan klarifikasi, sabar dalam melakukan pengkajian dan penelitian lebih lanjut dan tidak terburu-buru. Apalagi bila pendapat yang asing tersebut datang dari seseorang yang tidak dikenal, bodoh, dan mengklaim apa yang tidak ia kuasai!

Maka bagaimana dibenarkan bagi seorang yang berakal sehat, menginginkan keselamatan dan kesuksesan untuk mengambil (panduan) agamanya dari Abu Maryam Al Mukhlif dari internet dan Ftalk, sementara ia tidak mengenal sosok Abu Maryam Al Mukhlif dengan pengenalan yang bentuknya telah kami sebutkan di depan? Padahal ia melihat sendiri berbagai pendapat tersebut yang asing dan menyelisihi pendapat para ulama yang terpercaya. Ia juga melihat pada sosok orang tersebut terdapat banyak sekali pendapat yang ia bersendirian menganutnya. Maka bagaimana lagi jika hal itu masih ditambah dengan tanda-tanda lainnya tentang keburukan akhlaknya dan kerusakan jiwanya?

Bagaimana orang yang berakal sehat akan mengizinkan dirinya tertipu oleh kefasihan orang yang berbicara atau unjuk kekuatannya dalam berdalil dengan Alquran, hadis, dan perkataan para ulama. Padahal orang yang fasih berbicara dan pintar berdalil itu tidak memahami dengan baik argumentasi-argumentasi dan tidak pula mengkajinya secara mendalam. Ia juga tidak mengetahui apa yang ada di balik lafal-lafal argumentasinya yang baik dan lahiriahnya yang menawan. Seandainya datang orang lain yang lebih fasih bicaranya dan lebih kuat debatnya niscaya ia akan mengubah (panduan) agamanya dan menjadi pengikutnya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik rahimahullah, “Apakah setiap kali seorang yang lebih lihai berdebat dari orang lain datang kepada kami, kami akan meninggalkan wahyu yang diturunkan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena kelihaian debat orang tersebut?”

Begitulah, ia menjadikan agamanya lahan bagi orang-orang yang berlagak fasih dan berlagak ulama, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari bahaya mereka dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mencela mereka.

Bagaimana orang yang berakal sehat mengizinkan dirinya atas hal ini, sementara ia melihat sendiri apa yang telah kami isyaratkan di depan, keasingan, kesendirian, penyelisihan terhadap para ulama yang terpercaya, sikap keras, sembrono, dan penyelisihan-penyelisihan terhadap perkara-perkara yang pasti (dalam Islam)?

Hal ini, demi Allah, sungguh mengherankan. Barang siapa yang binasa, janganlah ia mencela, kecuali dirinya sendiri!

Kita berdoa kepada Allah Ta’ala semoga melimpahkan kesehatan dan keselamatan kepada kita dan seluruh kaum muslimin.

Imam Ibnul Wazir rahimahullah berkata dalam bukunya, Itsarul Haq ‘alal Khalq,
“Keadaan yang membingungkan orang yang diajak langsung bicara oleh-Nya
dan tak sabar menunggu penjelasan sebaik-baik ulama
sungguh layak untuk penelitian yang agung
dan keraguan atas kekeliruan yang dianggap pasti pada diri setiap ulama

Bait kedua (yaitu kalimat syair pada baris ketiga dan keempat) memberikan sebuah peringatan penting kepada para ulama ahli kalam dan lain-lainnya atas perkara yang para ulama besar pun masih terperosok ke dalamnya berupa klaim-klaim kepastian (qath’i) dan meyakini ke-qath’i-annya padahal ia belum melakukan penelitian yang mendalam.

Sesungguhnya Nabi Musa ‘alaihis salam yang diajak bicara secara langsung oleh Allah Ta’ala (kalimullah) kalau bukan karena ia meyakini secara pasti kekeliruan Khidhir, niscaya ia tidak akan mengingkari Khidhir.

Demikian pula banyak ulama ahli kalam meyakini secara pasti kebenaran dalil-dalil mereka yang mengharuskan dilakukannya takwil terhadap makna firman Allah Yang Maha Mengetahui hal yang gaib.

Padahal kedudukan mereka di bawah Nabi Musa yang diajak bicara secara langsung dengan Allah Ta’ala, Rasul yang memiliki hubungan dekat dengan Allah Ta’ala, utusan yang terpelihara dari kesalahan. Kedudukan mereka dari Nabi Musa terpaut oleh jarak yang begitu jauh sampai tidak bisa dibayangkan oleh pikiran. Sementara perbandingan ilmu Allah Ta’ala dengan ilmu seluruh makhluk seperti dijelaskan dalam hadis sahih adalah seperti tetesan air yang diambil oleh seekor burung dari lautan yang begitu luas.”

Barang siapa menetapi beberapa aturan dan nasihat-nasihat penting yang kami sampaikan di depan, beserta sebab-sebab petunjuk lainnya, kemudian ia meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala, jujur dalam memohon dan berdoa serta meminta dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah lagi Maha Memberi, niscaya Allah Ta’ala pasti akan memberinya petunjuk.

Sumber: Syaikh Abu Abdurrahman Jamal bin Ibrahim as-Syitwi al-Misrati (Athiyatullah al-Libi), Jawabu Sual fi Jihad ad-Daf’i, (1434 H: Dar al-Jabhah, Al-Jabhah al-I’lamiyah al-Islamiyah al-‘AIamiyah (Global Islamic Media Front), dan  Mimbar at-Tauhid wa al-Jihad).

Penulis: 'Athiyyatullah Al Libbi
Editor: Muhammad Ibn Yusuf Al 'Umar